Perhatian: Tulisan ini berdasarkan pengalaman semata dan tidak bermaksud mendiskreditkan pihak manapun
3 Mei 2010 sengaja saya sempatkan untuk cuti dari kesibukan kantor untuk pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) C. Sebetulnya saya sudah mempunyai SIM C namun diterbitkan di Yogyakarta tahun 2005 ketika saya masih kuliah itu pun ‘nembak’. Kali ini sengaja saya ingin mencoba pengurusan SIM C dengan jalan yang ‘lurus’ tanpa embel-embel apapun.
Proses pengurusan SIM C baru:
1. Tes kesehatan
Lokasi terletak sekitar 3 meter dari lokasi parkir motor dan tepat bersebelahan dengan kantin. Pembayaran tes kesehatan sebesar Rp 20.000 tunai. Diminta untuk menyebutkan huruf atau angka yang ditampilkan di dinding mirip seperti tes kesehatan untuk mata namun jauh lebih mudah.
2. Pembayaran asuransi
Loket pembayaran asuransi terletak di gedung biru yang terletak sekita 25 meter dari lokasi parkir motor. Dari pintu masuk gedung kemudian ke arah sebelah sayap kiri. Besarnya biaya asuransi adalah Rp 30.000 kemudian kita akan menerima sebuah form yang tertulis asuransi jiwa yang dibayarkan ke perusahaan asuransi yang saya tidak familiar namanya. Setahu saya jika ada kecelakaan ataupun permasalahan di jalan raya, pihak Jasa Raharja lah yang memberikan santunan, tapi ini kok malah bayar ke perusahaan asuransi yang gak jelas.
3. Pembayaran di loket BRI
Biaya RP 75.000 harus kita keluarkan di loket BRI ini yang lokasinya bersebelahan dengan lokasi pembayaran asuransi. Sebelum membayar, kita harus mengambil nomor tiket antrian terlebih dahulu, Di mesin nomor tiket terdapat pilihan: Pengurusan SIM Baru, Perpanjangan SIM Lama dan satu lagi saya tidak ingat, namun di loket tidak tertera klasifikasi seperti di nomor antrian. Jadi sepertinya tidak ada gunanya pemisahan di nomor tiket antrian.
4. Pengambilan formulir
Lokasi pengambilan formulir berada di sayap barat gedung biru tepat di belakang loket BRI. Dengan menunjukkan bukti pembayaran dari BRI kita mendapatkan formulir yang harus diisi sesuai keperluan.
5. Penyerahan formulir
Menuju lokasi penyerahan formulir harus melewati pintu masuk yang berada di dekat lokasi loket BRI, yang artinya kita harus memutar lagi ke arah loket BRI. Dapat dilihat terjadi proses yang mondar mandir dan tidak efisien. Penyerahan formulir dilakukan di sayap belakang gedung tersebut. Ketika menyerahkan formulir kita akan mendapatkan bukti untuk ikut ujian teori. Di lokasi penyerahan formulir, kita akan diminta membayar RP 10.000. Duit lagi duit lagi, sepertinya gak ada habisnya nih duit melulu.
6. Ujian Teori
Proses selanjutnya yaitu ujian teori yang dilakukan masih di gedung tersebut. Dekat lokasi penyerahan formulir terdapat penunjuk bahwa lokasi ujian teori di lantai 2, namun ketika penyerahan formulir, petugas memberitahu bahwa lokasi ujian teori berada di lantai satu, lurus dari lokasi tersebut sampai ujung kemudian belok kiri dan cari Ruang II. Di sini terlihat bahwa petunjuk arah yang berada di tembok sangat tidak berguna. Buat apa diberikan petunjuk namun pelaksanaannya tidak seperti yang dipetunjukkan. Dalam ujian teori ini saya menjawab yang benar sebanyak 16 soal (Menurut Petugas Lho), tanpa saya tahu yang mana jawaban yang salah dan yang mana jawaban yang benar. Artinya penilaian ujian teori ini sangat Diragukan Keabsahannya.
7. Remedial Test
Proses ini dilakukan hanya jika ujian teori yang pertama gagal. Gagal di sini berarti mendapat nilai 0-17 dari 30 soal yang diberikan. Yang saya ragukan adalah bagaimana mungkin mengecek hasil ujian sebanyak lebih dari 15 orang hanya dalam waktu 15 menit. Dan tiap orang mengerjakan soal sebanyak 30 soal. Meskpun pengisian dilakukan dengan pensil 2B dan MUNGKIN saja pengecekan dilakukan oleh computer, sepertinya tidak mungkin dilakukan dalam waktu sesingkat itu. Karena hasil ujian langsung didapatkan sekitar 15 menit setelah ujian.
Kecuali jika pelaksanaan ujian dilakukan langsung di computer tanpa menggunakan pensil.
Proses Remedial Test dilakukan di lantai 2, prosesnya mirip ujian teori sebelumnya. Soal sebanyak 30 buah dan minimal harus menjawab dengan benar sebanyak 18 soal. Setelah saya mengikuti Remedial Test ini, saya mendapat penilaian menjawab 17 soal benar yang berarti saya belum dapat lulus. Tentu saja penilaian ini menurut Petugas Tanpa Saya Tahu Yang Mana Jawaban Yang Benar Dan Mana Yang Salah. Meskipun begitu saya diberikan kesempatan untuk mengulang 14 hari kemudian, yang artinya 21 Mei 2010 saya harus kembali untuk BERJUANG MENDAPATKAN SIM DENGAN JALAN ‘LURUS’. Masih ada proses selanjutnya yaitu ujian praktek, namun berhubung saya belum mengalam proses tersebut jadi saya tidak tulis prosenya seperti apa.
Hal-hal yang harus dipersiapkan dari rumah adalah:
1. Alat tulis
Pensil 2B dan pulpen akan digunakan ketika ujian teori, jadi sebaiknya membawa dari rumah. Tapi jika repot, kita dapat membeli di lokasi parkir Samsat seharga Rp 3.000 (pensil 2B dan pulpen).
2. Fotokopi KTP
3 buah fotokopi KTP harus disiapkan, namun jika tidak sempat pun kita dapat fotokopi langsung di lokasi yang berada di sebelah loket Asuransi seharga Rp 500 per lembar.
Hal-hal Menurut Saya Yang Harus Diperbaiki Dalam Proses Pengurusan SIM C (khususnya):
1. Sebaiknya diberikan selebaran yang berisi informasi proses pengurusan SIM ketika awal memasuki lokasi parkir (ketika membayar parkir) sehingga pengunjung tahu harus ke mana dan melakukan apa.
2. Tambah dan implementasikan petunjuk-petunjuk arah ruangan maupun proses yang harus dilakkan ketika berada di dalam gedung biru.
3. Spanduk-spanduk yang berisi kalimat ‘Hari Gini Pake Calo, Capek Deh’ dan lainnya sebaiknya dicopot saja dan dibakar karena tidak ada gunanya, lha wong “Calo Teriak Calo”. Hal ini terbukti ketika orang-orang yang berbarengan ujian dengan saya ditawari pengurusan oleh petugas dengan biaya RP 300.000. Saya rasa ini sudah jadi Rahasia Umum dan sama sekali tidak berlaku “Hukum Ekonomi” namun sebaliknya yaitu: “Permintaan Ada Karena Penawaran Di Mana-Mana”.
4. Sebaiknya proses pembayaran dijadikan satu, all in one. Tidak perlu bayar ini, bayar itu, bayar ono dan di beda-beda tempat. Entah untuk apa tujuannya, yang pasti mungkin semua ingin kebagian.
5. Proses ujian sebaiknya menggunakan computer, jika diperlukan ujian online saja karena bisa dilakukan di mana saja. Jika lolos barulah datang ke SAMSAT untuk ujian praktek. “Hari Gini Ujian Masih Pake Pensil, Capek Deh, Duitnya Dikemanain Aje”.
Tepat pukul 11.00 WIB saya telah mendapatkan hasil ujian remedial test walaupun dengan hasil harus mengulang 14 hari lagi. 21 Mei 2010 saya akan kembali lagi ke SAMSAT untuk ujian ulang teori tanpa harus membayar ini itu lagi. Ingin ‘lurus’ itu sulit, terutama jika ‘lurus’ itu minoritas.



5 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Januari 31, 2012 pada 7:58 am
yoyok
wah pengalaman yang hampir mirip wakakak
September 19, 2010 pada 1:37 am
dian
Banyak perbaikan yang saya lihat 4 tahun belakang di SAMSAT KOLOMBO Surabaya..
singkat kata kalo dulu percaloannya terang2an dan mustahil lulus dengan cara resmi (Mungkin 5%)
Sekarang masih ada percaloannya tapi berkurang dan kemungkinan lulus juga lebih besar (Menurut saya 40%).
ini bicara’in test motor
Test kesehatan (*Tepatnya test mata doank) normatif kalo ga parah2 amat matanya pasti lolos.
Tes tulis proporsional (Nilai 60 untuk dapat lolos) menurut saya lebih bagusnya 70. kalo disini sudah pake komputer dan bisa real time setelah waktu habis pada saat menjawab per soal, kita akan tahu jawabannya salah atau ga, dan di hampir akhir soal kita bisa menyimpulkan sendiri kita lolos pa ga.
Tes praktek yang menurut saya kurang proporsional, dari 6 macam kegiatan yang di test-kan, harus mulus tanpa satupun kesalahan dan hanya di berikan kesempatan 1x,
kegagalan bisa timbul karena grogi, lupa teknis praktek (harus melambaikan tangan sebelah kanan/kiri?) atau (harus lambat tidak boleh laju di salah satu test nya) atau kombinasi keduanya grogi terus lupa, hehe
kemudian klo gagal untuk bisa test lagi kira2 2 minggu dari test tsb, coba bayangkan kalo kita cuma dapat cuti yang beberapa hari saja, dan harus kembali kerja di luar pulau yang jauh dari pemukiman apalagi samsat.
jadi kesan saya seakan-akan masih ‘ada’ usaha mempersulit agar orang lari ke ‘calo’..
saya pikir kompetensi untuk mengendarai kendaraan tidak bisa di ukur dengan ujian yang seperti itu, saya tidak bisa lolos di test ini tapi justru dalam tes di perusahaan yang safety nya sangat2 di perhatikan dan tidak ada kepentingan untuk “main mata” meloloskan, bisa saja lolos karena test nya proporsional.
sori agak panjang curhatannya..
Mei 20, 2010 pada 1:14 pm
aditbram
gw termasuk yang lancar, tanpa nembak….pake ujian
berntung memang
Mei 4, 2010 pada 11:12 am
cefer
memang akan lebih enak kalau proses pembayarannya (asuransi, bri dan yang lainnya) di bikin sekaligus aja, ga perlu ke banyak loket, kan bisa lebih praktis, dan juga ujiannya di komputer aja kan bisa lebih mudah, lebih objektif juga hasilnya..
Mei 4, 2010 pada 8:51 am
Dio Prasetyo
Salam kenal,
laporkan kejadian ini Ke pengaduan Komisi Kepolisian Nasional Indonesia yang di singkat KOMPOLNAS. Websitenya http://www.jalur259.com/
Atau juga bisa di no telp ini 0811 259 259 dan ceritakan kasus Anda.
(nomor tersebut tidak bebas pulsa)
Laporkan segera kasus anda dan jangan takut, sebagai warga negara yang baik kita harus memberantas Calo – calo yang memeras uang rakyat kecil.