Banyak perumahan kelas elite di Jakarta ikut kebanjiran, tidak tanggung-tanggung sekelas Kelapa Gading, Cengkareng dan Pulomas. Banjir mencapai ketinggian sekitar 1 sampai dengan 1.5 meter, bisa disamakan dengan ketinggian sepinggang orang dewasa. Warga Jakarta sepertinya hampir setiap tahun harus menanggung banjir yang diakibatkan oleh ulah mereka sendiri. Memang penyebabnya klise, seperti: buang sampah sembarangan, pembangunan hutan beton, tidak adanya sumber resapan air. Hal ini ditambah dengan kurangnya antisipasi Pemerintah terhadap akan datangnya musim hujan.

Menurut Badan Meteologi dan Geofisika, hujan di Jakarta kali ini tidak seperti biasanya. Hujan yang seharusnya jatah untuk 1 bulan dihabiskan dalam waktu 1 hari. Belum lagi perkiraan BMG yang menyebutkan bahwa hujan deras masih akan berlangsung selama 1 minggu ke depan.

Alhamdulillah tempat tinggal saya bersama keluarga tidak dilewati kawasan banjir, meskipun banyak yang menyangka daerah saya di Tanjung Priok merupakan daerah yang rawan banjir. Saya masih berbangga hati, walaupun daerah Jakarta Utara ada yang menjuluki daerah “Kumis” yang berarti Kumuh dan Miskin, tetapi jauh dari banjir, hehehe….aman….
Daerah yang tidak dilewati oleh banjir adalah Warakas, Koja, Plumpang, Cilincing, kalaupun ada daerah yang terkena banjir, tidak separah di daerah perumahan yang elite itu. Jadi bagi yang ingin mempunyai rumah masa depan, Tanjung Priok bisa jadi pilihan lho.

semoga tahun-tahun ke depan Jakarta bisa membenahi diri dan terjauh dari banjir…