Sudah lama saya tidak melihat bajaj di Jakarta, baru hari ini saya melihat kendaraan tersebut setelah sekian lama di daerah Mangga Dua Jakarta Utara. Selain bemo, Jakarta juga mempunyai kendaraan legendaris yaitu bajaj. Tetapi bemo saat ini sudah sedikit ditemui, karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan bajaj.

Hari ini saya jalan-jalan ke Mangga Dua, saya melihat bajaj yang berbeda dengan bajaj dahulu saya lihat. Bajaj kali ini mempunyai beberapa perbedaan yang cukup mencolok dibanding bajaj jadul. Perbedaannya terlihat dari bentuk maupun keluaran alias polusinya.

1. Body lebih lebar
Dibanding bajaj jadul, bajaj yang ini punya body belakang yang lebih besar jadi memungkinkan mengangkut penumpang lebih banyak. Bajaj jadul mampu mengangkut 2 orang penumpang, tetapi bajaj yang ini mampu mengangkut sampai 3 orang penumpang. Tentunya dengan ukuran penumpang yang standar, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar.

2. Bemper lebih turun
Tidak hanya makhluk hidup yang beradaptasi dengan lingkungan, tetapi bajaj juga mampu. Sepertinya bentuk bemper mengikuti trend mobil-mobil trendy yang mengusung bemper rendah, mungkin biar bajaj gak kalah dengan mobil ajeb-ajeb. Tetapi sepertinya tidak cocok dengan kondisi Jakarta yang sering becek saat musim hujan.

3. Warna lebih cerah
Bajaj jadul semuanya berwarna merah padam, tidak ada warna lain. Jadinya monoton, tidak menarik. Tetapi bajaj kali ini mengusung warna-warna ngejreng, ada biru terang, hijau nyolok, tapi yang paling mantep itu bajaj warna pink, hahahaha. Warna pink ini bukan semata-mata karena warna bajaj, tapi pink ini membonceng iklan alat tes kehamilan, biar play safe mungkin niatnya.

4. Bernilai komersil
Bajaj pun bisa menjadi media iklan produk below the line, selain media-media promosi yang lain yang bernilai mahal. Saya rasa bajaj sebagai media promosi bisa mengangkat bajaj itu sendiri sehingga citra bajaj dapat menjadi bernilai komersil yang dapat berimplikasi pada nilai bajaj itu sendiri.

5. Polusi berkurang
Asap-asap ngebul yang dulu sering keluar dari bajaj, saat ini sudah tidak terlihat lagi. Jadi paling tidak polusi di Jakarta berkurang dengan berkurang nya bajaj penghasil polusi itu. Karena bajaj yang ini sudah menggunakan bahan bakar gas (BBG). Hal ini terlihat dari tulisan pada body bajaj yang tertulis “Angkutan Lingkungan BBG”

6. Mesin yang bersahabat
Bajaj jadul identik dengan bunyi “der eder eder” dan dibarengi dengan vibrasi-vibrasi yang membuat penumpang ikut bergetar jika berada di dalamnya. Tetapi bajaj ini sudah tidak ada lagi bunyi yang seperti itu, bahkan tidak ada lagi vibrasi-vibrasi yang gak penting. Jadi cukup nyaman untuk menggunakan bajaj sebagai kendaraan jarak dekat yang murah meriah.

Sebetulnya bajaj bisa bernilai wisata yang tinggi selain becak dan bemo. Warna sudah cukup meriah dengan tampil beda dengan warna yang ngejreng. Tentunya diikuti dengan perbaikan mesin dan sedikit polesan bagi supirnya. Jika perlu bajaj dilengkapi argo seperti taxi jadi warga tidak takut untuk kejeblos oleh harga tawar-menawar dengan supir bajaj.

Jadi tidak dengan gusur-menggusur saja yang dengan dalih mengurangi kemacetan, polusi dan sebagainya yang dilontarkan Pemprov untuk menghilangkan kendaraan-kendaraan legendaris Jakarta. Semoga bajaj sebajaj bajajnya bisa menjadi kendaraan yang tetap menjadi kendaraan legendaris Jakarta.