Jangan kaget saat saya beri judul tulisan ini dengan kata belakang “The Series”, karena in berhubungan dengan alur cerita film tersebut. Film besutan Hanung Bramantyo ini memang beda dari film Indonesia yang lain. Di saat film-film yang lain mengambil tema horor yang gak jelas, kisah cinta yang melankolis ataupun komedi dewasa, Hanung berani untuk tampil beda, walapun memang film ini diadopsi dari novel karangan Habiburrahman El Shirazy.

Sebenarnya saya berencana untuk nonton Jumper, tapi ternyata saya telat karena terjebak macet di Jalan Solo ketika menuju Ambarrukmo Plaza (macet gak hanya di Jakarta). Tetapi ketika saya melihat di papan jadwal film, terpampang bahwa Ayat-ayat Cinta ditayangkan pada jam Midnight tepatnya jam setengah dua belas malam. Berhubung di Jakarta masih tayang di teater-teater eksklusif XXI -Plaza Senayan, Senayan City- jadi saya putuskan untuk nonton di Yogyakarta saja.

Sepertinya sudah menjadi ciri khas Hanung Bramantyo untuk memasukkan unsur komedi dalam setiap filmnya. Tak terkecuali Ayat-ayat Cinta, Hanung memasukkan unsur komedi saat scene-scene awal, pun Hanung mampu memasukkan beberapa unsur komedi pada pertengahan cerita yang alur ceritanya sedang menemui klimaks.

Bahasa Arab sangat sering digunakan dalam film ini, terutama Syukron dan Afwan, Bahasa Inggris pun menjadi selingan dalam cerita film tersebut. Tetapi ada beberapa tekstual yang tidak diterjemahkan arti dari Bahasa Arab, seperti ketika Fahri menerima surat dari Al Azhar bahwa dia dikeluarkan dari perguruan tinggi tersebut. Aktor dan aktris film ini lancar sekali dalam mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab, tapi mungkin logatnya saja yang kurang bagus.

Latar belakang yang menampilkan kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir yang berdampingan dengan penduduk asli terlihat sederhana. Mungkin dibuat dengan lokasi yang tidak sesuai dengan aslinya di Kairo , jadi terkesan latar belakang yang ditampilkan seadanya saja. Meskipun begitu, suasana kehidupan mahasiswa dapat kita rasakan dalam film tersebut karena tidak terlihat suatu kompleksitivitas dalam latar belakang tersebut terutama tempat tinggal Fahri bersama teman-temannya.

Saya terkesan dengan pemeran Fahri (Fedi Nuril) dan Aisha (Rianti Cartwright) yang cukup mampu memainkan peran mereka. Karena selama ini mereka tampil sebagai ikon anak muda yang bisa dibilang anak muda yang ”gaul”. Tapi dalam film ini mereka memerankan sosok yang Islami. Meskipun begitu masih terlihat kekakuan, seperti saat dialog antara Fahri dengan Aisyah saat mereka bertemu pertama kali di metro.

Editing film ini telihat kasar sekali karena banyak sekali adegan-adegan yang kurang ”nyambung”,misalnya ketika Maria Girgis (Cariss Putri) masuk rumah sakit dan tidak tidak diketahui penyakit sebenarnya yang diderita olehnya. Cerita film ini pun terasa kurang mengena karena disajikan hanya dalam durasi 120 menit. Dimana novelnya yang mempunyai tebal sebanyak 418 halaman sepertinya cocok disajikan dalam bentuk serial. Oleh karena itu saya tampilkan judul tulisan ini Ayat-ayat Cinta, The Series?. Saya yakin film ini akan jadi tontonan yang mengharukan untuk selanjutnya yang akan ditayangkan serempak pada tanggal 28 Februari 2008. Karena ketika saya nonton film ini pada Sabtu 23 Februari 2008 di Ambarrukmo Plaza, jadwal midnight (23.30), saya melihat banyak penonton yang menangis di saat pertunjukkan sudah selesai.

Pernikahan adalah ibadah, jadi Allah pasti menunjukkan jalan rezeki

Islam adalah sabar dan ikhlas

Sekarang aku mengerti bedanya Cinta dan Ingin Memiliki

Overall, saya salut kepada Hanung yang mampu membuat film ini bukan sekedar film, film berat namun memberikan nuansa baru bagi Islam di Indonesia. Semoga film-film Indonesia ke depan banyak yang seperti ini. Amiin.