Untuk menonton film ini, saya harus berusaha dengan sangat, benar-benar penuh perjuangan. Sama halnya cerita dari film ini yang memperlihatkan semangat juang dari seorang manusia dari suku Yagahl yang bernama D’Leh. Film ini lanjutan hasil karya dari pembuat film ”Independence Day” dan ”The Day After Tomorrow”. Menonton di Artha Gading 21 dimana lokasi theaternya sangat membingungkan, kalau tidak percaya, coba saja nonton di sana. Lokasi Artha Gading (bukan Mal Kelapa Gading loh) ada di daerah Jalan Yos Sudarso, Jakarta. Tapi saya belum ingin me-review lokasi maupun tetek bengek dari Mal Artha Gading. Karena belum saya jelajahi mal tersebut sepenuhnya.
D’Leh, Tic-tic, Evolet, Ibu Tua merupakan peran-peran utama dari 10.000 BC. Awalnya cerita dari film ini membingungkan karena kita tiba-tiba disodorkan kehidupan suku Yagahl yang entah berantah lokasinya di belahan bumi ini. Meskipun begitu, film ini dari awal hingga akhir dibantu oleh peran narator yang memberikan beberapa penjelasan dari alur cerita film.

Berburu Mannak, melintasi pegunungan besar di tengah salju untuk mengejar Four Legged Demon, mencari Kepala Ular yang berhenti di bawah rembulan adalah beberapa aksi yang mengisyaratkan betapa film ini ingin menggambarkan betapa luasnya bumi ini. Banyak sekali ungkapan ataupun istilah yang digunakan dalam film ini (Kepala Ular, Gigi Tombak) jadi jika ingin benar-benar mengerti alur cerita film ini, jangan sedikitpun memejamkan mata.

Tidak klop rasanya jika suatu film tidak dibumbui oleh kisah cinta, begitupun dengan 10.000 BC. Kisah cinta yang berawal saat masih kanak-kanak hingga dewasa yang dialami oleh D’Leh dan Evolet itulah yang justru membuat film ini lebih hidup. Karena kisah cinta mereka lah terjadi perubahan yang begitu berarti bagi suku Yagahl. Mulai dari D’Leh mengatakan bahwa cahaya bintang yang satu itu tidak pernah bergerak ke manapun, sama seperti Evolet yang akan selalu tetap di hatinya, sampai dengan Evolet yang tiba-tiba hidup kembali padahal sudah dipanah oleh salah seorang Four Legged Demon.

Aksi-aksi yang membuat saya cukup membelalakkan mata karena terlihat begitu nyata ketika:
1. D’Leh bersama suku orang-orang suku Yagahl yang lain berburu Mannak.
2. Dikejar-kejar hewan semacam burung onta raksasa (entah apa namanya) di tengah padang rumput.
3. Menyelamatkan Gigi Tombak dari tenggelamnya di lubang jebakan untuk rusa.

Belum lagi ditambah aksi terakhir dimana pemberontakan para kaum budak yang menggunakan Mannak untuk membantu menghancurleburkan piramid-piramid yang telah dibangun dan memporaporandakan dinasti tersebut.

Ternyata film ini menghubungkan pembangunan piramid dengan menggunakan para budak dan Mannak. Yang saya masih bingung, di film ini diceritakan bahwa dinasti pembangun piramid telah hancur berarti piramid yang dibangun hancur juga kan. Apakah ada dinasti pembangun piramid yang lain? Secara piramid masih ada sampai saat ini???

Overall, saya menyukai film ini karena petualangannya yang tidak hanya di situ situ saja. Kita terasa dibawa mengelilingi dunia ini.