Tergabung dalam sebuah milis memang menambah pengetahuan sekaligus mengetahui permasalahan dan kita juga bisa memberikan pendapat untuk solusi permasalahan tersebut. Salah satunya adalah milis GPS Jakarta, di milis ini lebih banyak membahas mengenai lowongan pekerjaan, tips psikotes bahkan sampai sharing mengenai benefit (termasuk gaji) yang ditawarkan suatu perusahaan baik swasta, BUMN bahkan untuk Pegawai Negeri Sipil.

Baru-baru ini ada salah satu anggota milis yang memposting kebingungan dia mengenai diteruskannya atau tidak perjuangan dia untuk mengikuti tes rekruitmen di Telkomsel, sedangkan saat ini dia sedang bertugas di luar Jawa. Pertanyaannya dia

“…saya kemarin ( 12/3/08 ) dapat undangan untuk mengikuti tes di TELKOMSEL, tp kebetulan di pekerjaan saya sekarang, yaitu di sebuah kontraktor BUMN yg menugaskan saya di kalimantan, shg saya tidak dapat berada di jakarta,

Persoalannya adalah, saya ingin menanyakan prospek ke dpn saya jika saya mengikuti tes ini, apakah TELKOMSEL patut untuk diperjuangkan, sehingga saya tidak ragu untuk melangkah lebih jauh untuk mengikuti tes di TELKOMSEL, dikarenakan perjuangan saya untuk mengikuti tes cukup bisa dibilang berat, lebih2 dr sisi biaya yang saya keluarkan…”

Jika saya rincikan sebenarnya banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk mengambil sebuah keputusan dari sebuah pertanyaan Worthy gak sih?. Saya tidak akan membahas seberapa pentingkah Telkomsel untuk diperjuangkan tapi penelahaan lebih secara umum. Seberapa pentingkah kita memperjuangkan untuk pindah ke perusahaan lain yang diyakini lebih besar dari perusahaan tempat bekerja saat ini.

Saya coba runtut dari awal mula pengiriman lamaran ke perusahaan baru. Saat itu kita pasti mempunyai beberapa faktor yang menstimulus hati nurani kita untuk mengetik surat lamaran, menyusun dokumen-dokumen penting untuk lamaran (fotokopi ijazah, transkrip, KTP), merapikan amplop lamaran, dan langsung mengirimkannya ke kantor pos terdekat. Itu jika pengiriman dilakukan melalui pos. Jika pengiriman melalui email, atau situs jasa lowongan langkahnya berbeda tetapi semua metode pengiriman tersebut mempunyai faktor penstimulus yang sama.

Faktor-faktor tersebut bisa saja karena:

1. Perusahaan baru dapat memberikan benefit yang lebih besar
2. Mempunyai image yang lebih wahh
3. Lokasi penempatan yang lebih dekat dengan kampung halaman
4. Pekerjaan baru lebih menantang (tergantung departemen penempatan)
5. Ketidakpuasan dengan perusahaan yang sekarang
6. Banyak teman yang pindah ke perusahaan baru tersebut

Mungkin saja masih banyak faktor lain, karena tergantung dari individu masing-masing. Tetapi yang tidak mungkin adalah tidak adanya faktor pendorong untuk pindah ke perusahaan baru. Karena jika tidak mempunyai pendorong, pasti dong tidak ada keinginan untuk pindah.

Kembali ke perjuangan untuk mengikuti tes rekrutmen, saat dihubungi oleh perusahaan baru pasti kita punya perasaan senang bukan kepalang. Karena sudah diberi kesempatan untuk mengikuti tes rekrutmen. Tetapi perasaan itu hanya sebentar saja, karena otak sebelah kiri kita sudah berpikir:

1. Ongkosnya berapa ya untuk ke Jakarta (jika lokasi rekrutmen di Jakarta)?
2. Bolos berapa hari nih?
3. Nanti surat dokternya bikin di mana ya?

Jika sudah seperti ini pasti kita akan menimbang-nimbang sampai kepala pusing 8 keliling. Kalau sudah seperti ini saya sarankan untuk makan, tidur, nonton DVD, infotainment. Yang penting jauhkan dulu dari hal-hal yang berbau rekrutmen. Kalau sudah gak pusing lagi, baru ditimbang-timbang lagi.

Sebenarnya mudah saja untuk memutuskan Worthy gak sih?. Kembali lagi ke faktor penstimulus yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Jika sudah punya faktor itu, maka kuatkanlah dan yakinkanlah hati bahwa kita telah berani untuk melamar di perusahaan baru tersebut. Pun jika ongkos mahal, bingung bolos berapa hari atau sampai bingung buat surat dokter sebenarnya bisa diatasi jika kita sudah punya keyakinan untuk tetap terus maju. Karena semua masalah pasti ada solusinya.

Ongkos mahal, solusinya pinjam teman dulu jika belum ada uang. Bisa diganti saat gajian atau penghasilan pertama (jika diterima di perusahaan baru). Bolos berapa hari, dihitung-hitung saja mulai perjalanan sampai kembali ke tempat tugas, lalu pinter-pinter cari alasan. Buat surat dokter, titip saja sama teman sekantor (jangan yang “ember” lho) atau titip sama ibu kos, minta tolong buatin. Solusi-solusi diatas hanya sebagai alternatif lho, saya tidak menyarankan hal itu. Jika punya alternatif lain, sumonggo

Tetapi semua ini kembali ke hati nurani masing-masing, yang pasti jika kita ikut tes rekrutmen pasti ada makna di balik semua itu. Jika lulus, alhamdulillah…berarti ada kesempatan untuk diterima. Kalaupun tidak lulus, paling tidak bisa jalan-jalan menghilangkan penat atau kita bisa tahu model tes rekrutmen di perusahaan baru tersebut alias tambah ilmu. So tidak ada yang sia-sia kan. Tapi saya tidak menyarankan untuk pindah ke perusahaan baru lho.

Ingat saja yang baik, buang yang buruk-buruk. Semoga bisa menjadi pertimbangan.

So, Worthy gak sih?