Semenjak pindah ke kantor baru, saya belum pernah lagi memanjakan hobi yang sedari dulu saya lakukan. Sepakbolalah yang mampu menyihir saya untuk berpaling dari semua rutinitas sehari-hari. Sampai-sampai dahulu ada yang bilang

“Moso aku cemburu sama bola”
“Main bola mulu, aku gak pernah diperhatiin”

Saya juga bingung jikalau harus memilih dan salah satu pilihannya adalah olahraga itu. Saya juga tidak ingin melakukan benchmark antara sepakbola dengan yang lain. Gak worthy gitu loh. Moso cewe mo dibandingin sama bola.

Hari minggu lalu, ketika jalan-jalan ke daerah Bugis di Tanjung Priok saya melihat ada dua pertandingan sepakbola jalanan. Yang saya perhatikan bukan cara mereka bermain ataupun bola itu sendiri bahkan tidak dengan penontonnya. Tetapi tempat mereka bermain itu lah yang saya amati. Mereka bermain di tempat yang seharusnya bukan tempat bermain sepakbola. Jalan raya itu lah yang menjadi saksi dan ‘korban’ para pemain sepakbola jalanan.

Di satu sisi jalan raya merupakan fasilitas umum yang diperuntukkan bagi pengguna jalan sebagai penghubung antara satu tempat dengan tempat yang lain. Namanya juga fasilitas umum, berarti boleh dipergunakan untuk semua masyarakat tanpa terkecuali. Artinya boleh juga donk dipakai oleh para ‘pemain sepakbola jalanan’. Hehehe, kalau kita melihat setengah-setengah dari maksud dan arti dari sebuah jalan jadinya memang salah kaprah, seperti film ‘Fitna’ yang dibuat setengah-setengah hanya untuk menyesatkan. Tapi jika kita lihat secara keseluruhan bahwa selain dapat dipergunakan untuk semua rakyat, harus dilihat juga fungsi jalan itu sendiri.

Fungsi jalan itu sendiri sebagai penghubung antara satu tempat dengan tempat yang lain. Selain itu sebagai prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. Yang berarti sama sekali BUKAN untuk dijadikan lapangan sepakbola. Apalagi jalanan yang di(salah)gunakan sampai-sampai diblokir sehingga membuat pengecilan jalur dari dua jalur menjadi satu jalur. Hal ini juga sering terjadi di daerah Jl Letjend Suprapto, Cempaka Putih. Seringkali para pesepakbola jalanan ini memblokade jalur lambat yang berakibat sepeda motor dan angkutan umum harus melalui jalur cepat sehingga berimbas para penumpang angkutan umum harus menunggu bis umum di tepi jalur cepat. Padahal seharusnya minimal para calon penumpang ini menunggu di jalur lambat walaupun belum tanpa halte bis.

Itu semua dinilai dari sebuah peraturan dan kesewajaran penggunaan fasilitas umum. Lain halnya jika kita lihat dari sosialita masyarakat saat ini yang butuh sebuah fasilitas umum untuk olahraga. Tentu yang namanya fasilitas umum harus free of charge. Gak ada embel-embel uang jatah preman, uang kebersihan maupun pungli-pungli lainnya. Pesepakbola jalanan ini bukan tanpa sebab untuk menggunakan jalanan sebagai wadah pelarian mereka. Tapi memang sudah habisnya lahan yang dapat dijadikan tempat untuk berolahraga, kalaupun ada itupun harus bayar dengan harga yang tidak murah.

Kebanyakan lahan sudah dijadikan gedung ataupun fasilitas konsumtif (baca: shopping mal) yang terus dibangun tanpa melihat lingkungan sekitar. Tapi lagi-lagi hal ini diblok oleh sejumlah kepentingan yang tidak mewakili kepentingan masyarakat. Semoga saja di masa depan jumlah sarana dan prasarana umum khususnya untuk berolahraga semakin banyak, karena seperti pepatah lama

Mens sana in corpore sano
a healthy mind in a healthy body