Memang berat menjaga mulut terlebih lagi jika yang diajak bicara sudah salah kaprah. Jika sudah salah kaprah bisa-bisa menjalar kemana-mana. Sudah gak jelas arah omongannya, gak relevan dan gak nyambung lagi dengan tujuan awal ngobrol. Bermaksud ingin lebih akrab, lebih menyatu dengan teman tapi berhubung yang diajak ngobrol (ternyata) ada konflik dengan apa yang menjadi bahan omongan akhirnya menjadi intrik banyak pihak.

Hal di atas terjadi pada teman saya yang baru saja menjadi karyawan baru pada sebuah bank swasta. Awalnya ingin ngobrol-ngobrol dengan maksud berinteraksi dengan karyawan lama. Bahan obrolan pun ringan-ringan aja, tapi lama kelamaan menanyakan mengenai privasi teman yang lain. Ngobrol yang ada hubungannya dengan pasangan teman mereka. Singkatnya seperti ini:

Alia (bukan nama sebenarnya): (Cowo/Cewe) loe yang dulu ‘bule’ ya?
Dwi (bukan nama sebenarnya): Tahu dari mana loe?
Alia: dari temen-temen yang laen
Dwi: Emang siapa aja?
Alia: (menyebutkan satu nama) ada beberapa sih, kaya XxxX

Setelah obrolan itu sama sekali tidak ada masalah sedikit pun, bahkan bekerja seperti biasanya. Namun pagi kemarin timbul intrik yang melibatkan tidak hanya Alia dan Dwi, tapi juga merembet ke teman-temannya yang lain. Dan setelah usut diusut ternyata ada 2 pihak yang terlibat intrik selain Alia dan Dwi. Berarti ada 4 orang yang terkungkung dalam kesalahpahaman akibat obrolan yang santai tapi berat.

A –> B –> C –> D


Ilustrasinya seperti di atas, ketika A ngobrol dengan B kemudian B ngobrol dengan C dan terakhir C ngobrol dengan D. Pasti ada informasi yang hilang ketika B ngobrol dengan C artinya ada perbedaan hal yang disampaikan oleh A kepada B dibandingkan B ngobrol dengan C. Sehingga informasi akan berbeda jauh yang disampaikan oleh A dengan yang diterima oleh D. Apalagi jika di antara A, B, C, D terdapat intrik masa lalul yang sampai saat ini masih membekas.

Itulah intrik dalam pergaulan pekerjaan, ada yang suka ada pula yang tidak suka, ada yang salah paham ada yang berniat baik. Macam-macam lah tabiat orang itu, yang penting bagaimana kita bisa membawa diri dalam pergaulan, karena tidak semua orang empati kepada kita tapi bukan berarti semua orang dis-empati.

Selamat datang di pergaulan dunia kerja.