“Pernahkah kau merasakan cinta pertama?”
“Apakah cinta pertamamu adalah cinta sejatimu?”
“Pernahkah kau sadari bahwa kau pernah merasakan cinta sejati?”

Tiga pertanyaan di atas bisa kita jawab dalam hati kita masing-masing, karena setiap orang mungkin saja mempunyai jawaban yang berbeda. Mungkin hal itulah romantisme yang ada dalam film terbaru Tora Sudiro bersama wanita-wanita cantik. Saya menonton film ini di Gading 21, tempat yang dekat tempat tinggal saya dan lumayan murah 15000 IDR untuk Sabtu, Minggu dan Libur dan 10000 IDR pada Senin s.d. Jumat. Awalnya saya berencana nonton bersama Ninta, tapi berhubung satu dan lain hal saya urungkan niat itu, hehehe…maap ya Ninthonk.

Melihat poster film “Namaku Dick” saya menduga-duga bahwa film ini akan membuat penonton terpingkal dari awal film sampai babak penghabisan. Membandingkan dengan film Tora Sudiro yang sebelumnya – Quickie Express – sama sekali jauh dari perkiraan. Memang sih, film ini dibumbui dengan humor-humor konyol, tapi lama kelamaan menjadi membosankan. Tora yang berperan sebagai Bama, Davina sebagai Agnes, Maria Agnes berperan sebagai Tina dan Richa Novisa melakoni peran Dewi.

Tora Sudiro sepertinya mulai mengikuti gaya Jim Carrey di film The Mask. Coba saja perhatikan akting Tora ketika ‘barangya’ mulai menggeliat. Gerak-geriknya itu loh mirip banget Jim Carrey, apa ini pertanda Tora sudah mulai kehilangan jati diri atau udah mati gaya? Cuma Tora yang bisa menjawab. Yang bikin gak nyambung adalah ketika Bama pergi naik taksi yang tidak tahu kemana tujuannya. Di dalam taksi Bama ngoceh dengan ‘barangnya’ yang dipergoki oleh supir taksi hingga supir taksi memberi saran untuk ke ‘orang pintar’. Nah bagaimana mungkin supir taksi tiba-tiba bisa tahu masalah yang dihadapi Bama, padahal yang mendengar ‘barangnya’ Bama ngoceh, yaaa cuma Bama sendiri.

Aktris-aktris wanitanya pun selain VJ Marissa sepertinya hanya menjadi peran figuran yang membosankan. Seperti gak ada artinya, cuma bikin suasana film hot dan menjual karena ada bintang-bintang seksi. VJ Marissa pun sepertinya masih sedikit kaku dalam berinteraksi dengan Tora, terlihat ketika berdialog di restoran.

Kemudian yang menjadi dubber suara ‘barangnya’ Bama adalah si Amingwati alias Aming, di sini terlihat bagaimana sutradara benar-benar ingin menyatukan Tora dan Aming meskipun hanya suara Aming yang terdengar. Tapi paling tidak penonton bisa berkata “suara Aming tuh”, lagi-lagi motif “biar laku”.

Kalau ada rencana untuk nonton film ini sebaiknya jangan membawa anak di bawah umur 18 tahun. Film ini memang tidak sevulgar Quickie Express, tapi lebih buruk dalam hal informasi yang ingin disampaikan. Saya pun sampai akhir cerita hanya menangkap pesan mengenai cinta sejati, yang lainnya nihil. Tapi paling tidak di film ini ada pesan moral mengenai seseorang yang berniat berubah menjadi lebih baik demi mengejar cinta pertamanya sekaligus yang menjadi cinta sejatinya. Yaitu antara Bama dengan Tiara…

Ada lagi promo yang dibuat “biar laku” Namaku Dick di Gading 21. Sobekan tiket bisa dikirim ke alamat tertentu yang kemudian akan diundi untuk mendapatkan hadiah. Info ini saya lihat di etalase kaca di Gading 21 di sebelah poster Namaku Dick.

Jadi pilihan terakhir apakah ingin menghabiskan long wiken ini salah satunya dengan nonton film Namaku Dick atau mencari aktivitas lain. Atau ada yang sudah nonton, bisa berbagi dengan saya di bagian komentar, tararengkyuuuu….

PS: image merupakan Copyright dari Namaku Dick