Setelah sekian lama menunggu akhirnya dirilis juga Narnia yang kedua. Ada saja tantangannya dari hujan yang tiba-tiba turun deras (untung saja cepat reda) dan tempat duduk yang sisa sedikit karena tadi malam ( 15 Mei 2008 ) begitu ramai di Hollywood KC. HTM cuma 10000 IDR, apalagi jika menggunakan kartu kredit yang berpromosi Buy One Get One Free.

Film mulai jam 18.30 tapi saya baru sampai di lokasi pukul 18.00, untung saja tiket masih ada jadi gak sia-sia saya berjuang selama lima menit untuk naik Kopaja 66, hehehe. Tadinya mau makan dulu di restoran cepat saji Hok Ben, tapi berhubung waktu sudah mepet terpaksa makan cemilan saja.

Sebaiknya nonton dulu film Narnia yang pertama, biar gak roaming klo nonton Narnia: Prince Caspian. Di Narnia yang kedua ini, keempat raja masa lampau (Peter, Edmund, Susan, Lucy) tiba-tiba dipanggil kembali oleh suara terompet – di film disebut tanduk Queen Susan – yang ditiup oleh Prince Caspian. Sebenarnya keempat anak tersebut atau mungkin lebih pantasnya disebut Raja dan Ratu masa lampau Narnia sudah mengidam-idamkan kembali ke Narnia. Sudah setahun lebih mereka ada di dunia aslinya atau lebih tepatnya di Inggris. Meskipun begitu dalam dunia Narnia, mereka belum kembali sejak 1300 tahun lalu. Lama banget yak di dunia Narnia, berarti cepet tua dunk, hehehe.

Prince Caspian ternyata adalah seorang putra mahkota dari bangsa Telmarine, yaitu bangsa yang mempunyai nenek moyang bajak laut datang dari dunia nyata. Sama seperti keempat Raja masa lampau Narnia. Hal ini disebutkan oleh Aslan di saat penghujung film, walaupun menurut saya agak telat dalam penyampaian asal-usul bangsa Telmarine atau mungkin penulis scenario, sutradara ingin membuat penonton penasaran mengenai hal ini.

Lain lagi cerita asalnya Lord Miraz, dia adalah paman dari Prince Kaspian yang ingin merebut tahta. Lebih-lebih setelah lahirnya anak dari Lord Miraz yang ingin dijadikan raja Kaspian suatu saat nanti jika Lord Miraz naik tahta.

Jika di Narnia yang pertama Peter, Edmund, Susan dan Lucy tiba di Narnia melalui lemari pakaian, saat ini mereka datang dengan keajaiban di lorong stasiun kereta api bawah tanah. Saya mengira-ngira jika nanti ada Narnia yang ketiga, melalui apa, di mana mereka akan datang ke Narnia. Di sini bisa tebak-tebakan, atau bikin poling, hehehe.

Di awal film ini saja sudah siap berperang, saat itu saya berpikir film ini cepat sekali habisnya padahal film Narnia yang pertama memakan durasi 2.5 jam. Perang antara pasukan Narnia yang mempunyai prajurit berbagai macam makhluk ajaib dari centaur, tikus yang bisa ngomong sampai dwarf –sebutan orang kerdil-. Meskipun dalam peperangan, film ini tetap memunculkan dialog-dialog lucu, seperti ucapan dari dwarf dan tikus kecil (saya lupa namanya). Bahkan sampai di penghujung film ini tetap ada sedikit bumbu humor, sepertinya sutradara ingin mengurangi keseriusan atau menambah santai aroma film ini dibandingkan film Narnia yang pertama.

Ternyata pikiran saya bahwa film ini cepat habis, ternyata salah. Bahkan film ini sama seperti film sebelumnya yang memakan durasi 2.5 jam. Lama juga lho, jadi jika ingin nonton film ini di waktu malam sebaiknya siap-siap bawa kendaraan yak.

Pada perang tersebut, pasukan Narnia mundur kembali ke benteng mereka. Sebuah bangunan batu dimana pada film Narnia yang pertama adalah tempat Aslan dibunuh oleh Penyihir Putih dan bisa hidup kembali. Hewan-hewan yang dulu menjadi prajurit Penyihir Putih pada Narnia yang pertama, saat ini di Narnia yang kedua menjadi kawan lho, jadi musuh pun bisa menjadi kawan.

Ada hal yang pasti tak dapat terduga di film ini apalagi ketika pasukan Miraz menyerbu benteng Narnia dan kemudian Peter menantang Lord Miraz untuk bertarung satu lawan satu. Yang pasti tetap terjadi peperangan dan seperti halnya Narnia yang pertama, Aslan datang dengan Lucy untuk membantu Narnia. Mau tahu apa yang tak dapat terduga lagi? Nonton saja film ini.

Saya tidak merekomendasikan film untuk ditonton oleh orang yang hobi film berat, tapi juga film ini bukan film ringan. Film ini sebuah imajinasi, imajinasi akan adanya dunia yang indah seperti Narnia. Sebuah perkataan Aslan, lebih kurang seperti ini:

“Things never happen the same way twice.”

Saya masih belum mengerti mengapa Aslan berkata seperti itu J