Ya, sebenarnya imbas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah dapat dilihat secara teoritis, tapi kali ini saya merasakannya sendiri pada pagi hari ini. Berangkat ke kantor masih menggunakan angkutan umum yang sama, untuk angkot dari rumah menuju pemberhentian bus tarif angkot masih sama yaitu 2000 IDR. Tapi mulai angkutan umum yang kedua dan ketiga -saya naik angkutan umum tiga kali, fiuhhh- busyyeett dahhh, tarifnya naik semua. Kenaikan tarif angkutan umum sebesar 1000 IDR untuk tiap angkutan umum.

Kalau dilihat kenaikan umum memang (hanya) 1000 IDR, tapi jika seseorang karyawan yang kesehariannya naik angkutan umum akan menjadi lebih berat. Apalagi dalam sebulan maksimal ada 23 hari kerja dan sekali berangkat bisa naik angkutan umum lebih dari satu kali.

Saya berikan ilustrasinya seperti ini, jika dalam satu hari seorang karyawan naik angkutan umum pergi pulang sebanyak 6 kali (pergi 3 kali, pulang 3 kali) dan dan kenaikan untuk tiap angkutan umum sebesar 1000 IDR maka 1000 IDR dikalikan 6, sehingga cost untuk tiap hari mengalami kenaikan sebesar 6000 IDR. Dalam satu bulan biasanya terdapat 22 hari atau 23 hari kerja, maka 6000 IDR dikalikan 23 hari kerja (saya ambil maksimum hari kerja sebagai worst case) sehingga pengeluaran ongkos angkutan umum akan mengalami kenaikan sebesar 138000 IDR. Lumayan kenaikan sebesar itu untuk alokasi kebutuhan yang lain, misalnya belanja bulanan.

Hal tersebut di atas hanya satu dari sekian banyak imbas kenaikan BBM. Masih banyak lagi yang (mungkin) akan saya atau teman-teman alami pada hari-hari ke depan. Hal ini hanya berlaku untuk orang-orang yang kesehariannya naik angkutan umum. Buat yang punya mobil pribadi atau apalah namanya, hal ini kurang berpengaruh. Karena meskipun harga BBM naik, mereka yang notabene mempunyai mobil pribadi atau apalah namanya, paling-paling akan mengalihkan kenaikan BBM ini ke ongkos produksi usaha mereka. Yang saya bingung, kenapa mobil pribadi atau apalah namanya masih saja diberikan ijin untuk membeli bahan bakar minyak bersubsidi??? Artinya masih saja disamakan dengan angkutan umum atau motor dalam hal hak pembelian bahan bakar minyak bersubsidi.

Semoga saja masih ada harapan harga bahan bakar minyak di kemudian hari bisa turun atau sumber energi semacam blue energy bisa direalisasikan. Sehingga umat manusia tidak bergantung lagi pada bahan bakar fosil yang mulai langka.