Dulu ketika saya mendapat panggilan wawancara kerja di salah satu Big Four Accounting Firm ingin rasanya menjadi seorang Auditor, khususnya IT Auditor. Tambah lagi saat itu yang menjadi interviewer adalah seorang auditor yang berpengalaman. Saya melihat hal tersebut dari kartu nama yang diberikan olehnya, dengan beberapa nama sertifikasi di belakang nama orang tersebut, seperti CIA, CISA. Walaupun saat itu saya belum tahu apa arti akronim tersebut. Bahkan saya pernah berniat untuk mengambil pelatihan dan sertifikasi auditor, tapi berhubung membutuhkan biaya yang besar dan tidak relevan dengan job desk saya saat di kantor lama maka saya urungkan niat tersebut.

Meskipun begitu sepertinya doa saya didengar, hehehe…hari ini saya menjalani training internal quality auditor yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Bidang audit kali ini memang bukan dalam IT, tetapi dalam hal kualitas mutu pelayanan. Karena pekerjaan saya kali ini erat kaitannya dengan kualitas pelayanan pelanggan. Standar yang digunakan adalah ISO 9001:2000 sebagai bahan audit yang sebelumnya sudah diberikan training. Baru minggu lalu saya training ISO 9001:2000, tapi berhubung terlalu banyak teori, jujur…saya kurang nangkep maksudnya trainer. Training awareness ISO 9001:2000 mengambil paradigma auditee (orang atau organisasi yang diaudit), tetapi training internal quality auditor hari ini dan besok mengambil sudut pandang sebagai auditor (orang yang melakukan proses audit).

Hari ini membahas kembali ISO 9001:2000 dan obyektifnya di lapangan. Jadi bukan hanya sekedar teori, tetapi diberikan contoh kasus yang sering terjadi di lapangan. Misalnya mengenai pengendalian dokumen, apakah perubahan dokumen mempunyai history? Dari obyektif tersebut kemudian dikaitkan dengan klausul atau pasal yang terdapat pada ISO 9001:2000. Terdapat 8 klausul pada ISO 9001:2000, tentu saja beranak, dari 1.1 ada 4.2.3 sampai 8.5.3. Selain itu juga diberikan pemahaman bahwa proses audit bukan mencari kesalahan tetapi melaporkan apa yang terjadi di lapangan sudah sesuai dengan yang distandardisasikan (ISO 9001:2000). Jadi bukan hanya yang tidak sesuai saja yang dilaporkan, tetapi yang sudah sesuai pun harus dilaporkan. Bagaimana menjadi seorang auditor pun gamblang dijelaskan baik dari segi komunikasi ke auditee, menyadari trik-trik yang dilakukan auditee agar lolos dari proses audit bahkan sampai perencanaan proses audit itu sendiri.

Ada beberapa istilah yang membuat bingung peserta training. Perbedaan antara istilah correction, corrective dan preventive. Ada yang bisa memberikan contoh? Misal dalam kasus sakit perut, tindakan correction, corrective dan preventive seperti apa??? Sedikit membingungkan memang klo gak bener2 dijelaskan dengan contoh kasus. Ya sudah, gak usah dipaksa buat ngejelasin tiga istilah itu. Saya juga masih bingung…

Tapi hari ini trainer dari Premysis Consulting asik juga ngejelasinnya, jelas dan padat. Gak pake muter-muter dan gak pake lama, hehehe…