Sementara yang lain rame untuk menonton Kungfu Panda dan Incredible Hulk, saya memutuskan untuk menonton film Sex and The City. Bukan tanpa alasan, tapi saya yakin film ini akan memberikan nilai moral yang dibumbui dengan sedikit humor yang ‘nakal’. Rencananya Jum’at siang, saya ingin membeli tiket nonton di Hollywood KC. Karena saya yakin pasti akan penuh dan kebagian kursi sisa jika saya membeli mendekati jam nonton. Biasanya sih, saya beli tiket jam 14.00 untuk nonton jam 18.30 atau 19.00. Tapi apa mau dikata, ternyata kesibukan pekerjaan di kantor membuat saya tidak bisa membeli tiket lebih awal.

Hampir saja saya tidak jadi nonton, karena jam 17.15 saya baru berangkat dari kantor. Meskipun jarak Wisma Mulia ke Hollywood KC hanya membutuhkan waktu 5 menit dengan naik Kopaja 66, tapi saya gak yakin bisa dapet kursi yang enak. Beneran enak lho, bukan ‘enak’. Kan ada juga tuh orang-orang yang sok-sok-an gak mau nonton gara-gara kursinya ‘gak enak’, emang niatnya ya begitu lah. Stop stop, gak boleh su ’udzon (baca: berprasangka buruk).

Sex and The City: The Movie, film berkisah mengenai empat wanita paruh baya yang menjalani kehidupan mereka bersama dengan pasangan masing-masing. Saya rasa jika sering atau pernah nonton serial Sex and The City, pasti gak asing dengan Carrie Underwood Bradshaw, Samantha, Miranda dan Charlotte. Setiap wanita tersebut mempunyai ciri khas masing-masing. Di film ini 75% berkisah mengenai kehidupan asmara Carrie Underwood Bradshaw. Bagaimana kelanjutannya dengan Big, apakah berlanjut ke pernikahan atau malah melanjutkan tinggal bersama tanpa menikah. Waaa mengenai tinggal bersama tanpa menikah, hal seperti ini di Indonesia sepertinya masih tabu dan tidak sesuai dengan adat ketimuran. Tapi gak sedikit juga yang menjalaninya, tahu sendiri lah seleb-seleb yang sering di-ekspose. Yang gak di-ekspose pun mungkin ada, mulai dari yang menginap di rumah pasangannya (entah apa yang dilakukan mereka) sampai yang bener-bener sudah menetap. Tapi hal itu kembali lagi kepada hak individu masing-masing, wong akibat kan ditanggung berdua, hehehehe.

Back to the movie, buat saya film ini memberikan kisah tersendiri mengenai lika-liku cinta hingga akhirnya memutuskan menikah. Carrie yang sampai putus nyambung 15 kali (ada yang bilang sih, klo putus nyambung, hubungan jadi gak sehat) tapi ujung-ujungnya berakhir bahagia (menikah atau tidak, masih rahasia lho). Jika cinta itu memang untuk kita, cinta akan kembali kepada kita. Saya yakin juga jika cinta masih menginginkan kita untuk kembali kepadanya, cinta tak akan mencari cinta yang lain. Itu idealnya lho, belum tentu dalam kenyataan akan terjadi hal yang ideal tersebut.

Perselingkuhan, yup lagi-lagi sesuatu hal yang merusak tapi menurut saya ajang introspeksi bagi masing-masing kedua belah pihak. Sama seperti yang dialami oleh Miranda dan Steve. Sulit untuk memaafkan, begitu pun Miranda untuk memaafkan Steve yang tlah selingkuh. Setelah 6 bulan, Miranda pun sadar masih mencintai Steve. Tentu saja Steve tidak henti-hentinya untuk meminta maaf. Saya gak tahu jika saya di posisi Miranda (no comment kenapa saya mengandaikan di posisi Miranda), apakah bisa seperti itu, hmmmm. It’s another story…

Jelalatan tapi mampu menahan, itulah Samantha yang memiliki kehidupan seksual yang gak biasa. Gairah yang gila-gila-an, sampai-sampai saat Hari Kasih Sayang, Samantha menyiapkan suatu kejutan luar biasa untuk sang kekasih (baca: bukan suami). Mantebhhh dah kejutannya dan yang pasti bikin ngakakk, kakakakak.

Kehidupan Charlotte yang menurut saya jauh lebih baik dibanding ketiga temannya yang lain dalam urusan cinta. Sudah menikah dengan lelaki yang luar biasa, sayangnya sampai pertengahan film, kehidupan Charlotte masih datar-datar saja. Sampai akhirnya datang kabar gembira, apa itu, tonton aja ya, hehehe….

Saya terkesan dengan gigihnya perjuangan Carrie Underwood Bradshaw yang mampu bangkit dari keterpurukan setelah disakiti oleh calon suaminya. Tapi meskipun Carrie sampai termehek-mehek, ujung-ujungnya Carrie kembali ke calon suaminya. Meskipun telah dibuat sampai termehek-mehek, Carrie sadar bahwa masih mencintai calon suaminya. Karena termehek-mehek itulah yang membuat Carrie yakin, karena cinta adalah merasakan segalanya. Jika hanya tertawa gembira, marah-marah, sebel gak akan ada artinya jika belum mengeluarkan air mata. Karena air mata lah yang menandakan bahwa kita benar-benar mencintai dia, mencintai pasangan kita.

Udah ah, segitu ajah Sex and The City –nya, ntar malem lanjut lagi nonton Hulk dan besok nonton Kungfu Panda. Hehehe…Cinemaholic…

PS: image dicomot dari Sex and The City: The Movie