Senin kemarin, 23 Juni 2008 saya meluncur ke bandara pada pukul 11.30 menggunakan bis DAMRI yang khusus ditujukan ke bandara dari Blok M. Tujuan saya menuju Medan dan nantinya dilanjutkan ke Makassar dalam rangka tugas kantor. Semua tiket sudah dipesan secara online tapi ada satu rute yang tidak bisa pesan secara online. Rute tersebut adalah Makassar – Jakarta, semua travel yang dihubungi untuk pesawat Garuda telah penuh terisi. Akhirnya mau tidak mau, saya harus menggunakan pesawat Lion Air.

Ternyata tiket pesawat Lion Air harus saya ambil terlebih dahulu di sebuah travel yang bernama Dwi Daya yang berlokasi di Hotel Sheraton Bandara. Jadi sebelum sampai di bandara, saya harus menuju travel tersebut. Saya menggunakan bis DAMRI selama lebih kurang 1 jam untuk mencapai bandara Soekarno Hatta. Ternyata sesampai di sana, ternyata lokasi Sheraton Bandara sudah terlewati jadi saya harus kembali ke arah sebelumnya. Untuk mencapai ke Sheraton Bandara, saya menggunakan angkutan (umum) bandara –entah ini umum atau bukan – yang bercat putih dan seukuran dengan mobil Kijang. Mungkin lebih pastinya seukuran dengan mikrolet. Angkutan ini di sisi sampingnya bertuliskan “Koperasi Karyawan ……”. Saya bertanya-tanya apakah mereka legal atau angkutan plat hitam? Tapi jika dilihat platnya, memang berwarna hitam, jadi mungkin saja angkutan ini bukan angkutan resmi.

Angkutan ini melayani rute dari Terminal 1 – Terminal 2 di bandara Soekarno-Hatta. Jadi jika kita turun terlampau dekat atau terlampau jauh dari terminal tujuan, kita bisa menggunakan angkutan ini untuk mengantarkan kita. Tarifnya sebesar IDR 4000 untuk jauh dekat.

Ternyata hotel Sheraton Bandara tidak termasuk dalam rute yang dilewati oleh angkutan ini. Untuk menuju hotel Sheraton saya coba membujuk supir angkutan itu untuk mengantarkan saya menuju ke Sheraton. Tanggapan dari supir tersebut: “bisa pak, yang penting bayarannya”. Daripada saya harus menggunakan ojek menuju ke hotel, lebih baik saya bayar lebih angkutan ini untuk mengantarkan saya.

Setelah sampai di hotel, saya mengambil tiket dan langsung cepat keluar untuk menuju terminal keberangkatan masih menggunakan angkutan tersebut. Setelah keluar dari area hotel Sheraton ternyata supir meminta 2 penumpang yang lain yang bersama saya untuk naik ojek menuju tujuan mereka. Di sini saya sudah mulai curiga dengan tingkah laku supir. Terminal 1 telah terlewati dan masuk terminal 2, setelah sampai terminal F, saya membayar supir dengan harga yang pantas dan ternyata supir tidak mau menerima. Hingga 2 kali saya tambahkan, tetap saja dia tidak mau menerima. Sampai dia meminta uang sejumlah IDR 50000, busseettt gilak kan. Masa naik angkot yang gak jelas dengan rute yang gak begitu jauh, saya harus membayar 50000 IDR.

Daripada saya ribut, lebih baik saya keluar dan tinggalkan supir tersebut dengan saya membayar IDR 20000. Dan kata inilah yang keluar dari supir itu

“MONYET”