Ini posting terakhir saya soal hal-hal yang saya temui dari bepergian ke Medan dan Makassar. Jumat 27 Juni 2008 pukul 09.00 saya dan dua orang teman meluncur ke bandara Hasanuddin untuk kembali ke Ibukota. Dua orang (termasuk saya) menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 795 rute Makassar – Jakarta, sedangkan satu orang teman saya yang lain menggunakan pesawat Garuda dengan rute yang sama. Kami bertiga dijadwalkan untuk take off dari bandara Hasanuddin lebih kurang pukul 11.00.

Sampai di bandara pukul 10.00, berarti masih ada waktu untuk check in. Memasuki ruang check in, saya pun bergegas mencari counter Lion Air untuk jurusan Jakarta. Tak lama untuk mencari counter tersebut tapi apa mau dikata ternyata saya harus mengantri sekitar 5 orang. Memang kelihatannya sedikit, tapi kok saya menunggu sampai lebih dari 30 menit yak. Sistem yang digunakan oleh Lion Air masih manual dan dilakukan pemisahan antara check in bagasi dan check in tiket dalam satu counter, sehingga yang bertugas dua orang.

Saya sudah khawatir dengan sistem yang diterapkan Lion Air dengan pemisahan seperti itu. Penulisan nomor bagasi pun masih dilakukan dengan alat tulis, bukan dengan komputerisasi. Pun tidak ada penertiban antrian di depan loket akibatnya ada beberapa orang yang menyerobot antrian. Kesal juga seh, tapi daripada buang-buang energi lebih baik energi saya simpan untuk perjalanan menuju Jakarta.

Akhirnya tiba giliran saya untuk check in bagasi. Sama sekali tidak ada masalah untuk hal ini, setelah check in bandara saya langsung bergeser ke petugas sebelah namun masih dalam satu loket. Di petugas yang kedua saya masih harus menunggu lagi untuk check in tiket. Di depan saya hanya ada satu orang jadi saya pikir gak bakal lama deh. Tapi ternyata jauh sebaliknya, petugas tampak mondar mandir ke kantor Lion Air, tambah lagi keringat yang mengucur deras.

Tambah lagi kecurigaan saya setelah menunggu sekitar 20 menit untuk check in bandara. Yang terjadi kemudian adalah jauh dari perkiraan saya, petugas mengatakan bahwa saya tidak mendapat seat untuk kepergian ke Jakarta. Petugas memberi alasan bahwa penumpang yang berasal dari Jayapura dan transit di Makassar cukup banyak. Apakah mungkin seat yang sudah saya pesan dijual kembali dengan harga yang lebih mahal ??? Karena yang saya tahu adalah jika sudah memesan tiket pesawat tidak bisa digagalkan hanya karena ada yang berminat dan berani dengan harga yang lebih mahal. Jika memang benar seperti yang saya duga, berarti Lion Air sama saja seperti Metromini, yang sering ngetem untuk cari sewa (penumpang).

Indikasi kecurigaan saya itu sedikit terkuak dengan terlihatnya aktivitas antara petugas bandara dan seorang penumpang. Yang saya lihat adalah penumpang memberikan sejumlah uang dan si petugas memberikan secarik kertas. Entah tiket atau bukan, tetapi yang pasti penumpang itu langsung menuju Waiting Room.

Akibat dari tidak adanya seat tersebut, akhirnya saya dipindahkan ke pesawat dengan nomor penerbangan JT 793, jelas jam penerbangan pun berubah dari pukul 11.15 ke pukul 13.30. Tapi saya masih bersyukur dengan adanya pemindahan jam berangkat, saya pun bisa ikut Jumatan di mesjid depan bandara. Dan alhamdulillah sudah selamat dari Medan dan Makassar, Amiieenn…