Satu lagi film superhero di pertengahan tahun ini yang sebelumnya sudah ada Iron Man dan Incredible Hulk. Sebelumnya saya berencana menonton Hancock pada premiere-nya tanggal 2 Juli, tapi karena kehabisan tiket di Senayan City walhasil saya akhirnya menonton di La Piazza, Kelapa Gading. Meskipun harga tiketnya lebih mahal (belum apply BCA Card eeuuyy) tapi ndak papa lah, sing penting nonton Hancock dan terpuaskan birahi saya untuk melihat aksi Will Smith dan Charlize Teron.

Dengan efek yang menghancurkan film ini terasa dahsyat dimana gedung-gedung bertingkat hancur, jalan tol berantakan, bahkan sampai lokomotif kereta api sampai pengok hanya karena bersentuhan dengan John Hancock. Tapi meskipun begitu, efek yang ditampilkan belum halus contohnya seperti saat Hancock mendarat di tanah atau di jalan yang pada awalnya selalu membuat hancur tanah atau jalan tersebut. Jalan yang hancur tersebut terasa seperti animasi saja, tak terlihat nyatanya. Mungkin ekspektasi saya yang berlebihan karena mengharapkan efek yang menghancurkan bisa seperti Transformers.

Gaya take off Hancock pun jika diperhatikan mirip seperti salah satu tokoh film Heroes yaitu Nathan Petrelli. Tiba-tiba melompat dengan meninggalkan asap dan terbang begitu saja. Namun begitu, saya suka dengan gaya terbang Hancock yang gak biasa, gak seperti Iron Man, Superman atau superhero lain yang bisa terbang dengan gaya badan telungkup, kedua tangan lurus ke depan dan kedua kaki lurus ke belakang (Please don’t try this at home yak).

Film ini sebenarnya drama yang dipercantik dengan efek-efek yang menghancurkan, banyak pesan moral yang ingin ditampilkan. Seperti halnya John Hancock yang menolong polisi untuk menangkap bandit-bandit gak tahu malu tapi dengan menghancurkan fasilitas umum. Sampai akhirnya Hancock bertemu Ray ( Jason Bateman) yang mampu melihat sisi baik dari Hancock. Ray berkesimpulan bahwa Hancock mengalami kesepian sehingga dia berbuat destructive.

Orang yang mempunyai sifat buruk (baca: marah-marah dan destructive) pun mampu berubah menjadi lebih baik. Tentu dengan tekad yang kuat seperti halnya Hancock yang rela dipenjara untuk menjadi lebih baik dan memahami bagaimana menjadi pahlawan sesungguhnya. Seseorang yang berperingai buruk pun ternyata masih dirindukan, tentu dia harus berubah untuk menjadi lebih baik. Sama halnya ketika Hancock dirindukan untuk kembali turun ke jalan untuk menumpas segala kejahatan.

Gak ada superhero yang gak make kostum, gak terkecuali John Hancock. Kostumnya itu loh, mirip kostum X-Men yang superketat. Hanya saja gak ada logo X nya di dada, tapi ada gambar elang di bagian pundak belakang. Elang pun akhirnya menjadi ciri khas dari Hancock.

Saya pikir ketika Hancock telah berubah menjadi lebih baik dan tahu arti pahlawan sesungguhnya, film akan habis begitu saja. Tapi ternyata tidak, memang saat Hancock bertemu Ray (Jason Bateman) dan istrinya Mary (Charlize Teron), saya melihat ada yang aneh terhadap pandangan mata Mary ke Hancock. Klimaks yang pertama sudah terlewati ketika Hancock membantu polisi menggagalkan perampokan bank tanpa menghancurkan sedikit pun fasilitas umum, saatnya klimaks yang kedua dimana ternyata diketahui bahwa Hancock adalah manusia abadi yang telah hidup 3000 tahun dan ternyata dia tidak sendiri.

Mau tahu siapa lagi makhluk super selain Hancock ??? Nonton aja yak, pasti tambah seru dengan adegan yang lagi-lagi destructive tapi terlalu imajinatif. Yang pasti klimaks yang kedua memberi pesan moral:

1. Rela berpisah demi kebahagian seseorang yang dicintai
2. Lebih mementingkan kepentingan orang banyak dibanding kesenangan pribadi (klise banget gak seh)

Hancock akhirnya mengerti bahwa sesuatu yang harus terjadi pasti akan terjadi karena takdirlah yang menentukan segalanya. What Will Be Will Be.

PS: image di-capture dari Hancock