Melanjutkan jalan-jalan setelah memuaskan birahi nonton Hancock, saya mencari tempat makan bakso di daerah Cempaka Putih. Saya pun dapat informasi tempat makan bakso ini dari teman SMA saya di Jakarta. Dia hanya memberikan petunjuk lokasi berada di belakang Plaza Dwima dekat kampus F Trisakti. Saya teringat dulu sering melewati daerah itu untuk pergi dan pulang dari kantor sebelumnya tapi sayangya saya tidak tahu pasti lokasinya.

Dengan berbekal motor saya pun langsung meluncur ke daerah itu. Sekitar 15 menit untuk sampai di Plaza Dwima dari daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di sebelah kiri dari Plaza Dwima ada sebuah jalan, tanpa basa-basi langsung saja saya masuk ke jalan itu. Hampir putus asa untuk mencari warung bakso tanpa saya ketahui nama warung itu, pun saya telah 2 kali bolak balik tapi tetap saja gak ketemu. Saya pun hampir makan bakso seadanya yang ada di jalan itu, tapi berhubung agak gak sreg jadi saya putuskan untuk makan ke daerah Sabang. Di tengah perjalanan masih melalui jalan (akhirnya saya tahu nama jalan itu setelah di rumah baca peta) Cempaka Putih Raya, tiba-tiba di sebelah kanan jalan saya melihat ada warung bakso.

Di spanduknya pun tertulis macam-macam bakso dari bakso keju, bakso buntel, bakso telor ayam kampong and so on dah. Waaaa pikir saya, mungkin ini bakso yang direfrensikan teman saya itu. Ahhh bodo deh, kek nya enak ni bakso. Tampak dari luar warung bakso ini cukup menjanjikan dari warna cat yang cerah dan tempat parkir yang gak ada pak ogah-nya. Lagipula di sekelilingnya gak begitu banyak ruko jadi gak begitu bising. Tapi kok di dalam hanya ada 4 pengunjung yak padahal kalau dilihat-lihat kapasitasnya bisa 50 pengunjung. Ahhh sekali lagi bodo deh, yang penting makan bakso.

Self service menjadi bentuk layanan bakso ini, oh iya nama warung baksonya itu Bakso Atom (mudah-mudahan bener). Ngambil mangkok putih berukuran sedang dengan dialasi nampan. Tersedia mie putih selain bakso-bakso yang bergelimpangan. Baksonya pun ada sekitar 10 macam, yang saya ingat itu ada bakso buntel, bakso telor ayam kampong, bakso keju, bakso urat kecil, bakso urat besar. Berhubung saya lagi laper dan baru pertama kali, jadi saya ngambil 4 macam bakso. Ukuran bakso sekitar 3 kali ukuran bakso normal. Setelah selesai pilih-pilih bakso, saya langsung bayar di kasir karena di ujung sudah ada kasir yang menunggu. IDR 30.000 habis untuk makan bakso, kalau harga per bakso nya kurang tahu pasti. Mungkin sekitar IDR 6000, karena saya sempat melihat kasir memasukkan angka 6000 di mesin kasir.

Warung bakso ini menyediakan ruangan ber-AC untuk pengunjung. Oh iya, selain bakso, tersedia juga minuman ringan. Moso makan bakso gak pake minum, ntar keselek lho. Saat itu pengunjung hanya ada 6 orang, mungkin karena baru jam 4-an tapi semakin lama semakin bertambah pengunjungnya. Buktinya saat saya selesai makan, pengunjungnya sudah lebih dari 6 orang.

Gak rugi deh, ngeluarin duit IDR 30000 buat rasa bakso yang yahud, tapi mungkin saja ada bakso lain yang lebih enak. Masih terus mencari…

Sekalipun saya hampir putus asa akhirnya dapat juga bakso atom cempaka putih, mungkin ini sudah takdir. Apa yang akan terjadi, maka terjadilah.     What Will Be Will Be.

PS: image bakso, saya capture langsung di warung bakso.
peta saya edit dari map flash Jakarta
Lokasi Warung Bakso ada di peta yang bergambar bintang berwarna merah