Jangan kelamaan mikir, kebanyakan perhitungan ini itu, jangan sia-siakan jika ada kesempatan. Lebih-lebih peluang untuk membuat bisnis sendiri. Yup, hal ini yang sering didengungkan oleh teman saya ketika kami sedang berbincang ringan. Kadangkala terlalu banyak perhitungan malah gak kesampaian, padahal jika dirunut dari awal mengenai perhitungan ataupun rencana yang dibuat telah begitu dahsyatnya. Mungkin sampai menggunakan dalil Archimedes, hukum peluang ataupun menggunakan grafik forecasting. Tapi kok tetap saja ada hal-hal yang di luar kekuasaan kita yang menjadi penyebab gagalnya tujuan atau malah di tengah jalan sudah menjadi pesimis. Bahkan karena terlalu lama perhitungan, kesempatan yang sudah di depan mata malah hilang begitu saja karena ada kompetitor yang lebih gesit.

Saat ini kesempatan bukan hanya ditunggu tetapi harus dicari. Tanpa membuang waktu untuk menghitung ini itu, sebaiknya langsung saja diambil kesempatan tersebut. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan sama sekali, artinya tetap ada perhitungan kasar tetapi tidak perlu sampai detil. Malah jika tidak ada perhitungan sama sekali namanya BUNUH DIRI.

Saya mengambil ilham ini dari teman saya tersebut. Awalnya memang beliau bekerja pada suatu perusahaan telekomunikasi yang cukup ternama di negeri ini. Tapi sepertinya jiwa beliau bukan sebagai orang kantoran melainkan berwiraswasta. Dahulu sebelum bekerja pada perusahaan tersebut, beliau memang sudah memulai usaha sendiri tapi belum dikerjakan secara serius. Melainkan masih mengandalkan promosi mouth to mouth. Tapi semenjak beliau sudah lepas dari perusahaan tersebut, usahanya mulai dikerjakan serius. Bahkan saat ini beliau sudah mempekerjakan beberapa orang dari kampung halamannya serta tidak lupa juga beberapa orang teman tempat menimba ilmu di perusahaan oblong di suatu kota nan indah.

Agustus 2008 ini beliau berencana membuka outlet yang berisi koleksi hasil design-design-nya. 26 dan 27 Juli 2008 kemarin saya sempatkan melihat lokasi yang akan dijadikannya outlet tersebut. Dari segi ukuran memang tidak begitu besar, nahh di sini lah beliau menggunakan otak kanannya. Mungkin jika orang-orang yang (tanpa sadar) lebih suka menggunakan otak kiri maka akan diperhitungkan mulai dari luas bangunan, tingkat keramaian, keadaaan sekeliling bahkan bisa jadi buat studi kelayakan usaha. Alahhh terlalu lama jika harus seperti itu, tetapi teman saya ini ketika melihat ada ruang kosong yang disewakan tanpa pikir ini itu, beliau langsung gesit melihat kesempatan usaha, kesempatan untuk –istilah kerennya- go public. Memang sih beliau sempat bercerita kepada saya bahwa pernah beliau menghitung berapa motor per menit yang melewati outlet tersebut. Tapi itu pun tidak terlalu mendetail, karena ketika saya tanyakan bagaimana metodologi penghitungannya, beliau menjawab ”Arrghh gak kaya gitu git, itu mah terlalu rumit, yang penting ak tahu ada 30 motor per menit yang lewat sini”.

Sepertinya otak kanan harus lebih sering dipergunakan nih jika gak ingin kehilangan kesempatan. Apapun kesempatan itu yang pasti jangan gunakan perhitungan yang terlalu mendetail. Sekarang tanyakan pada diri kita masing-masing

Sudahkah otak kanan kita gunakan?
Atau
Sudah efektifkah otak kanan kita gunakan?