“Saya terima nikahnya dan kawinnya …. binti … dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”

Kalimat ‘kabul’ yang harus dilafalkan oleh calon pengantin pria untuk membalas ‘ijab’ dari orangtua atau wali calon pengantin wanita. Terkadang untuk melafalkan bacaan ‘kabul’, si calon pengantin pria menghafalkan selama beberapa hari sebelum dilangsungkan akad nikah. Sebenarnya bukan menghafalkan jika menurut saya, tetapi lebih menegaskan dan melantangkan bacaan ‘kabul’ tersebut pada saatnya nanti sehingga saksi pernikahan mengesahkan akad nikah tersebut.

Ada beberapa calon pengantin pria yang tersendat-sendat untuk melafalkan bacaan ‘kabul’ tersebut. Bahkan temannya teman saya ada yang sampai salah menyebutkan nama calon pengantin wanita. Nahh kayaknya itu kesalahan yang paling parah, entah bagaimana solusinya. Jangan-jangan belum nikah sudah langsung talak.

Mungkin hal tersebut hanya sebagian kecil saja kekeliruan dari banyak akad nikah yang diselenggarakan. Tidak termasuk akad nikah hari ini, yang sangat lantang dan jelas diucapkan oleh pengantin pria. Meskipun sempat didera beberapa kegelisahan akibat keterlambatan rombongan pengantin pria. Hal ini bisa juga jadi pembelajaran untuk rekan-rekan sekalian.

Sentralisasi Pernak-pernik Pernikahan

Dalam acara akad nikah ada momen yang disebut ’seserahan’. Saya kurang mengerti dengan tujuan seserahan ini. Yang pasti tujuannya baik kan, lha wong barang-barang yang dibawa adalah request dari pengantin wanita. Tentu saja dengan senang hati si pengantin pria menyanggupi keinginan tersebut. Nahhh, saya sarankan untuk pernak-pernik tersebut sebaiknya dikumpulkan di satu tempat. Ini bertujuan untuk mencegah hal-hal keterlambatan kedatangan rombongan. Karena jika ada rombongan yang terlambat dan kebetulan rombongan tersebut membawa salah satu barang ’seserahan’, acaranya bisa tertunda semua. Dan bahayanya lagi bisa membuat calon pengantin wanita dan keluarganya bisa gelisah karena menunggu pengantin pria yang tak kunjung datang.

Kembali pada melafalkan ’kabul’ oleh pengantin pria yang menurut saya bisa membuat semua yang hadir di akad nikah tersebut bisa sumringah. ”Udah halal”, begitu sergah rekan-rekan yang hadir. Selain itu bacaan tersebut (lagi-lagi menurut saya) bisa membuat merinding, gelisah dan gemetaran. Seperti halnya mendengar azan yang dikumandangkan oleh muadzin. Hati pun mampu dibuat tenang, terharu dan bahagia karena kemapanan hidup telah siap dijalankan bersama (tentunya) istri tercinta.

Selain bacaan kabul, ada beberapa kalimat yang diucapkan oleh pengantin pria. Kalimat-kalimat tersebut bertujuan untuk meminta maaf kepada orangtua dan meminta ijin untuk dinikahkan dengan pengantin pria. Ma’ jleb jleb…itu juga membuat bulu kuduk saya merinding dan sekaligus terharu. Betapa tidak, anak perempuannya kini sudah siap menjalani sunnah rasulullah.

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Amiinnn…

About these ads