Huff huff, lumayan tergesa-gesa ketika saya harus memesan tiket untuk nonton Terminator Salvation, Jumat 29 Mei 2009 di Djakarta Theatre. Selain karena film ini baru diputar selama 3 hari sejak 27 Mei 2009, saya yakin film ini bakal mendapat kesuksesan seperti Terminator sebelumnya. Benar dugaan saya, ketika memesan tiket pada jam 13:00, untuk show jam 19.30 kira-kira setengah kapasitas theatre tlah terisi. Untung saya masih dapat tiket untuk nonton berempat.

Duduk di G1, G2, G3, G4 tepat di bawah speaker dan cukup dekat dengan layer membuat leher sedikit kemeng (baca: pegal). Tapi hal itu terobati dengan ketegangan di awal film Terminator, karena intro sound film tersebut benar-benar menggelegar. Bisa karena faktor speaker atau memang sound effect film tersebut memang heboh. Sebagai catatan Djakarta Theatre merupakan cinema XXI bukan cinema 21 biasa. Ketika film dimulai, kita akan disuguhkan dengan ledakan misil terhadap markas Skynet. Di awal film, sudut pandang kamera menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi ketika misil menuju markas Skynet, seolah-olah kita menjadi misil tersebut. Selain itu, ketika John Connor berusaha menyelamatkan diri di dalam helicopter yang akan jatuh, kita seolah-olah menjadi John Connor (sudut pandang kamera orang pertama). Hal ini yang membuat tegang di awal film.

Sebetulnya sebelum scene tersebut di atas, ada flashback di tahun 1975 yang menjelaskan adanya project Cyberdine –project me-robotkan manusia-. Flashback ini yang bakal menjadi cikal bakal cerita Terminator Salvation. Kemunculan tokoh Marcus Wright (project Cyberdine) yang menjadi lawan sepadan T-600 (sebutan tipe robot Terminator). Sepertinya tokoh Marcus ini dibuat-dibuat agar John Connor tidak terasa berjuang sendirian.

Sepanjang film ledakan dan penghancuran terjadi di mana-mana. Mulai dari ledakan mobil, perubuhan gedung bahkan ada robot raksasa layaknya robot Transformers yang mengejar tokoh Kyler Reese. Seperti cerita Terminator sebelumnya bahwa Kyle Reese ini menjadi most wanted person bagi Skynet, karena dia adalah orangtua dari John Connor. Jika Kyle Reese mati, maka Kyle Reese tidak bisa bertemu Sarah Connor di masa lalu dan tidak bisa melahirkan John Connor. Memang agak sedikit membingunkan, karena John Connor bertemu (calon) ayahnya di masa depan yang masih remaja.

Terminator kali ini robot-robotnya lebih bervariasi tidak seperti Terminator terdahulu yang hanya berbentuk manusia. Kali ini ada motorobot (robot motor), H-K (robot pesawat pengintai) dan hydrobot (robot air). Suasana dunia di Terminator kali ini juga tidak seseram yang diceritakan Terminator terdahulu. Kali ini para pemberontak masih bisa mengendarai pesawat tempur, helicopter dan yang paling penting adalah tidak perlu melakukan aktivitas di bawah tanah.

Tegang dan capek, kesan itu yang pasti akan didapat ketika nonton film ini. Disarankan jangan membawa anak di bawah umur dan pasangan yang tidak suka dengan film-film berbau jedar jedor dan ledakan di mana-mana. Dan yang pasti jangan memilih kursi di pojok, dijamin bakal kemeng jika nonton di pojok.

Di akhir film ini ternyata John Connor tidak mati, berbeda dengan yang diceritakan pada Terminator: Rise of The Machines, namun begitu cerita di akhir masih menggantung. Karena John Connor bisa hidup karena donor jantung dari Marcus Wright (tidak diketahui apakah mati atau masih hidup) dan Kyle Reese belum dikirim ke masa lalu untuk bertemu Sarah Connor. Jadi bersiap-siap saja untuk Terminator selanjutnya.