Pemesanan tiket sudah dibuka sejak Selasa 14 Juli 2009 untuk pertunjukan sejak Kamis 16 Juli 2009 s.d. Senin 20 Juli 2009 untuk theater-theater tertentu. Kebetulan theater yang jadi tempat saya sering nonton bisa pesan. Djakarta Theatre XXI salah satunya, meskipun begitu saya harus beli pas hari H nonton, karena untuk pemesanan hanya di satu theatre – Djakarta Theatre XXI ada 2 theatre- sedangkan satu theatre yang lain untuk pembelian pas hari H. Akhirnya saya harus beli pas hari H (Jumat 10 Juli 2009) sebelum Jumatan. Ternyata bioskop belum dibuka pun sudah ada yang antri, untungnya antriannya gak rapi karena antriannya hanya di eskalator belum antri di depan kasir. Secepat kilat berlari ketika tanda ’Closed’ diturunkan dan akhirnya saya ada di urutan pertama pas depan kasir. Yup yup sedikit cerita betapa hebohnya yang ingin nonton film ini, meskipun tidak tahu akan seperti apa filmnya.
Intro yang cukup mencekam mengawali film ini karena ditampilkan Death Eater yang menghancurkan toko-toko di dunia sihir dan juga perusakan di dunia Muggle (dunianya manusia biasa). Setelah itu tidak ada adegan yang menantang lagi, hanya adegan-adegan percakapan antara Harry Potter, Albus Dumbledore, dan Horace Slughorn. Memang sih sedikit membosankan, tapi setelah itu dimulailah konflik-konflik kecil. Mulai dari usaha Draco Malfoy melukai Harry Potter, hingga usaha Draco Malfoy melukai Albus Dumbledore dengan cara memantrai salah satu murid di Hogwarts bahkan Profesor Horace Slughorn pun terkena mantra Draco Malfoy.

Ada adegan yang cukup menghibur, pertarungan penyihir ketika rumah keluarga Weasley dihancurleburkan oleh Death Eater. Selain itu ada juga adegan usaha Albus Dumbledore dan Harry Potter mengambil Horcrux di sebuah gua gelap yang ternyata ada perlawanan dari (seperti) zombie. Adegan-adegan percintaan pun ditampilkan di film ini yang ingin menguatkan bahwa Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione telah remaja. Sampai tahap ini belum ditampilkan siapa Half Blood Prince sebenarnya, tapi saya yakin penonton pun sudah tahu siapa Half Blood Prince sebenarnya. Hanya saja, film ini lebih mencari tahu siapa sebenarnya Tom Riddle dan mencari kelemahannya.

Hingga akhir film, saya tidak mendapatkan klimaks-nya. Tidak ada penekanan khusus di film ini. Bahkan bisa dikatakan kisah percintaannya lebih kuat dibandingkan konflik untuk menghancurkan Voldermort ataupun konflik mengenai Half Blood Prince.

Mungkin menonton film ini bisa menimbulkan kebosanan yang tiada tara hingga dapat menimbulkan rasa kantuk, jadi siap-siap saja minum kopi sebelum nonton film ini. Oh iya satu lagi, mungkin ada adegan-adegan yang potongan film nya kurang rapi. Jadi bisa saja tiba-tiba pindah scene yang gak nyambung dengan scene sebelumnya.

Tapi demi kecintaan pada novel Harry Potter, saya rasa film ini bisa ditonton dengan alasan jangan sampai ketinggalan atau kebingungan untuk melanjutkan film Harry Potter yang akan datang.