Niat awalnya ingin monthly shopping alias belanja bulanan, bahhhh dah kaya berkeluarga sajah. Ritual ini ada di reminder bulanan saya, bisa tambah ilmu soal harga-harga barang. Jadi tidak hanya istri saja yang tahu soal harga-harga barang kebutuhan, suami pun perlu tahu.

Sabtu 25 Juli 2009 saya berniat hanya belanja saja di Carrefour Mall of Indonesia (MOI), tapi berhubung ada yang minta ditraktir pizza akhirnya saya mampir dulu di Mal Artha Gading karena terakhir ke MOI belum ada restoran Pizza Hut. Mampir di Pizza Hut Mal Artha Gading, makan-makan sebentar, jalan-jalan sebentar, dan sholat. Nahh selesai sholat, saya lihat ada sesuatu yang baru, yang belum pernah saya lihat sebelumnya di mal ini.

Bentuknya kotak, tinggi, terlihat ada etalase softdrink, etalase cangkir kopi, dan tombol dengan tulisan jumlah rupiah (Rp 3000, Rp 5000 dan lainnya). Setelah dilihat dari dekat, ternyata ini mesin minuman otomatis. Tergoda untuk mencobanya, saya baca dulu petunjuk pemakaiannya di mesin tersebut. Cukup mudah juga, hanya menyediakan uang kertas Rp 1000, atau Rp 3000 atau koin Rp 500.

Harga minumannya bervariasi, untuk softdrink mulai dari Rp 4000 dan Rp 5000. Tidak hanya minuman dingin saja, tapi ada minuman panas juga seperti kopi. Harga kopi mulai dari Rp 2500 sampai dengan Rp 3500. Di kotak tersebut juga ada tombol ‘kembalian’, menurut petunjuk mesin tersebut, jika uang yang kita masukkan lebih dari harga minuman yang kita beli, maka kita bisa menekan tombol ‘kembalian’ tersebut.

Ketika saya membaca-baca petunjuk di mesin tersebut, kok sepertinya ada yang mengamati dari dekat kotak tersebut. Tiba-tiba saja datang dengan menanyakan ingin minum apa. Nah lohhh…ternyata mesin ini belum full otomatis, masih ada orang yang menjaganya. Sepertinya memang masih diperlukan, karena saat itu ada pengunjung lainnya yang langsung saja mencoba mesin tersebut dan mengalami kesulitan sehingga harus dibantu oleh pramuniaga yang menunggui mesin tersebut.

Beberapa hal yang menjadi perhatian:
1. Kualitas uang kertas yang kurang bagus (lecek, kusut,kotor)
2. Belum tahu bisa mendapatkan kembalian dengan menekan tombol ’kembalian’3.
3. Kesulitan mengambil kopi yang telah jadi karena agak tertahan.

Saya mencoba untuk membeli 2 kopi Nescafe 3 in 1 yang seharga Rp 3000 per cangkirnya. Jika membaca petunjuk mesin, maka saya harus memasukkan 1 lembar uang kertas Rp 5000 kemudian 1 lembar uang kertas Rp 1000 (atau 2 koin Rp 500) tanpa memperhatikan urutan.

Namun menurut pramuniaga, yang dimasukkan harus berurutan, 1 lembar uang kertas Rp 1000 terlebih dahulu kemudian uang kertas Rp 5000. Entah kenapa saya tidak mendapatkan jawaban dari pramuniaga tersebut. Cara memasukkan uang kertas mudah saja.

1. Luruskan dan rapikan uang kertas tersebut.
2. Arahkan uang kertas tersebut ke lubang mesin (seperti memasukkan kartu ATM)
3. Jika mesin OK, maka akan tampil jumlah uang yang dimasukkan di layar tepat di bawah lubang tersebut.
4. Jika Not OK (rusak, kusut, lecek), maka mesin akan langsung mengeluarkan kembali uang tersebut.

Nah, di sinilah peran pramuniaga tersebut untuk membantu menukarkan uang. Ternyata pramuniaga tersebut sudah siap dengan yang kertas yang lebih bagus. Hahaha ternyata susah juga ya menggunakan mesin ini karena kualitas uang kertas kita yang kurang bagus.

Jika OK, kita bisa langsung memilih minuman yang kita inginkan dengan cara menekan tombol tepat di bawah etalase minuman tersebut. Tunggu sekitar 1 menit, maka akan keluar minuman yang kita inginkan. Secara keseluruhan mesin ini belum full otomatis, karena masih diperlukan bantuan pramuniaga untuk:

1. Menukarkan uang kertas yang kurang bagus kualitasnya
2. Menjelaskan langkah-langkah menggunakan mesin tersebut meskipun sudah ada petunjuk yang tertulis di mesin tersebut.

Menurut pramuniaga tersebut, mesin serupa sudah ada di bandara Terminal 2, daerah Kota dan lebih banyak lagi di daerah Lippo Cikarang. Namun untuk di Mal, sampai saat tulisan ini dibuat baru ada di Mal Artha Gading.

Mesin tersebut masih impor dari China, selain dapat info dari pramuniaga tersebut, terlihat juga banyak tulisan China di mesin tersebut. Saya sempat berpikir, jangan-jangan mesin ini diekspor ke Indonesia karena sudah gak laku di China atau malah jangan-jangan barang bekas (sambil mengingat bus umum yang diimpor dari China).

Update: ternyata di Bandara Soekarno Hatta sudah ada mesin serupa, hanya saja warnanya berbeda. Tampilannya seperti ini: