Selama 3 hari saya dijadwalkan menginap di Hotel Grand Swiss-Belhotel Medan karena untuk kepentingan tugas luar kota. Pemilihan hotel tersebut karena jarak hotel tersebut cukup dekat dengan lokasi kerja dan juga dekat dengan bandara Polonia, Medan. Alasan tersebut bukan isapan jempol belaka, memang benar ketika saya sampai di bandara Polonia, saya hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit menggunakan taksi untuk menuju hotel tersebut.

Menuju lobi hotel yang hanya berjarak sekitar 5 meter dari pintu masuk tidak merepotkan seperti beberapa hotel lain. Ukuran lobi hotel yang tidak terlalu besar mengesankan hotel ini dibangun pada lahan seadanya. Lobi hotel dilengkapi dengan tempat duduk satuan berwarna merah berbentuk seperti –yang orang biasa sebut- Hati atau Love dan juga tempat duduk berwarna putih dengan sandaran kayu berkapasitas dua orang. Jumlah tempat duduk tersebut hanya berjumlah 4 buah, untuk tempat duduk yang jumlahnya lebih banyak terdapat di dekat bar yang letaknya bersebelahan dengan lobi hotel.

Dari lobi hotel terdapat akses menuju Cambridge Mall yang memudahkan untuk mencari keperluan ataupun hiburan lain. Akses menuju lift cukup membingungkan karena harus melalui sebuah jalan masuk kira-kira 4 meter dari resepsionis dan awalnya saya pikir jalan tersebut untuk menuju toilet.

Dilengkapi dengan 3 buah lift yang harus menggunakan sebuah kartu untuk mengakses lantai hotel. Ukuran lift cukup untuk 15 orang, itu yang dikatakan di dinding lift, namun dengan ukuran yang saya rasakan sepertinya maksimal hanya cukup untuk 8 orang, belum lagi jika membawa tas atau koper, mungkin semakin berkurang kapasitas lift tersebut.

Keluar dari lift di lantai 9 saya merasakan suasana eksotis romantis, lantai yang dilengkapi dengan karpet berwarna ungu, lampu hotel yang sedikit temaram, belum lagi ukiran-ukiran di ceiling yang mengesankan lantai ini memang dibuat dengan menggunakan sentuhan. Di tembok tertulis “Non Smoking Floor” , berarti ada lantai yang dikhususkan untuk perokok.

Ketika memasuki kamar 0915 tempat saya menginap tidak seperti bayangan saya sebelumnya. Kamar tidak langsung terlihat setelah membuka pintu, karena setelah membuka pintu saya harus berjalan 0.5 meter ke depan kemudian belok kanan berjalan sekitar 5 meter untuk melihat kamar yang dilengkapi dengan dua tempat tidur. Tugas luar kota kali ini saya ditemani rekan dari Surabaya, sehingga kami dipesankan kamar dengan dua tempat tidur.

Ukuran kamar sekitar 8 x 6 belum termasuk kamar mandi dan luas antara pintu masuk menuju tempat tidur. Televisi yang disiapkan berupa LCD MONITOR Samsung berukuran 42 inch tentunya dengan fasilitas tv kabel seperti kebanyakan hotel lainnya. Jarak tempat tidur ke LCD MONITOR sekitar 2 meter sehingga cukup untuk menikmat tayangan televisi.

Kamar ini dilengkapi dengan satu meja kerja dengan beberapa stop kontak sehingga memudahkan untuk menggunakan peralatan listrik dalam satu waktu, misalnya laptop, dan handphone ketika di-charge bersamaan. Fasilitas lainnya sama saja dengan hotel lain, yaitu kursi, meja kecil dan peralatan minum (teko listrik, cangkir, gula, teh, kopi), lemari pakaian.

Lemari pakaian bagian atap sebelah dalam digunakan sebagai peletakan arah kiblat sholat yang menurut saya tidak strategis dan tidak mudah dilihat. Biasanya hotel tempat saya menginap, meletakkan di laci ataupun ceiling kamar sehingga mudah dilihat oleh pengunjung hotel.

Ketika memasuki kamar mandi saya cukup takjub dengan peralatan yang disediakan. Salah satu yang berbeda adalah adanya timbangan badan yang terbuat dari kaca transparan. Ukuran kamar mandi tidak jauh berbeda dengan kamar mandi hotel lain.

Shower, bathtub dan toilet yang disediakan masih mulus, mungkin karena hotel ini masih terbilang baru. Saya sempat bingung ketika ingin memutar kran di ruang shower karena tidak ada tanda atau simbol ke arah mana kran harus diputar jika ingin air panas atau air dingin. Sama halnya kran di wastafel dan juga kran di bathtub, jadi mau tidak mau harus saya coba putar ke kanan atau ke kiri untuk kran wastafel dan kran shower.

Saluran pembuangan di kamar mandi belum begitu lancar karena ketika saya mandi, air sempat menggenang beberapa waktu meskipun akhirnya kembali lancar dan hal ini berlangsung setiap saya mandi. Pun rekan saya merasakan seperti itu, sepertinya memang oleh pihak hotel diatur seperti itu.

Penggantian handuk di kamar mandi dilakukan hanya pada hari Selasa, sedangkan saya menginap mulai dari Senin hingga Kamis. Biasanya jika saya menginap di hotel lain, penggantian handuk dilakukan pada hari Selasa dan Rabu sehingga terasa bersih dan baru. Entah karena ada masalah teknis atau memang kebijakan hotel seperti ini.

Fasilitas hotel lainnya seperti kolam renang, fitness dan lainnya belum sempat saya cicipi, sehingga saya belum bisa membuat review mengenai hal itu. Tapi secara keseluruhan saya merasakan kenikmatan dan kesan mewah menginap di hotel ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan mencicipi menginap di hotel ini lain kali dan mencicipi fasilitas lainnya.