Niat awalnya saya ingin nonton Surrogates pada Sabtu, 3 Oktober 2009 di Gading XXI di Mal Kelapa Gading 3, karena ada promo Buy 1 Get 1 BCA Card. Namun akhirnya saya nonton film ini pada hari Jumat 2 Oktober 2009 di Djakarta Theatre XXI karena ajakan teman-teman kantor.

Selain itu pula kami nonton dengan teman-teman yang berasal dari kantor yang berbeda yaitu ‘induk’ perusahaan kami, hehehe. Untung saja sudah ada yang membelikan tiket terlebih dahulu, karena nonton di Djakarta Theatre XXI gak bisa beli tiket ‘Go Show’, paling tidak siang hari harus sudah beli tiket nontonnya.

Theatre 1 sangat penuh sehingga hanya menyisakan bangku kosong di barisan depan saja. Duduk manis di barisan F tengah lumayan juga view movie nya, tapi agak sedikit menaikkan kepala, biasanya saya nonton di barisan C atau D yang lebih baik view nya dan kepala sama sekali tidak pegal.


Diceritakan secara singkat terlebih dahulu mengenai asal muasal Surrogates, kenapa bisa ada Surrogates dan siapa penemunya. Ternyata Surrogates itu dalam bahasa Indonesia-nya adalah ‘Pengganti’. Saya baru tahu nih, ternyata ada ya di kamus untuk kata ‘Surrogates’. Tapi berhubung di film ini kental dengan nuansa robot, pada subtitle film ini arti ‘Surrogates’ menjadi ‘Robot Pengganti’.

Sama sekali tidak diberitahu latar belakang film ini di tahun ataupun abad berapa, karena biasanya film-film yang bernuansa futuristik pasti memberitahukan ada di tahun atau abad berapa.

Plot cerita di awal film ini sama sekali gak istimewa, ada pembunuh bayaran yang mengikuti incarannya, kemudian membunuh incarannya tersebut di sebuah gang kecil. Yang dibunuh tidak hanya incarannya saja, tetapi bersama dengan teman wanitanya. Yaaa seperti film-film lainnya, kalau ada pria dan wanita di gang kecil, kira-kira lagi ngapain yaa ? hehehe.

Hanya saja yang dibunuh adalah robot bukan manusia, namun begitu pembunuhan robot ini bisa membunuh langsung operatornya. Operator di sini berarti manusia yang mengendalikan robot pengganti tersebut.

Cerita berlanjut dengan kedatangan polisi, detektif dan lainnya. Bener-bener biasa deh awal cerita film ini. Namun ketika berlanjut ke penyelidikan pembunuhan Surrogates dan operatornya, film ini mulai kental dengan nuansa tekno-nya.

Saya bilang tekno, meskipun di awal saya menambahkan kata ’futuristik’. Meskipun sudah ada teknologi Surrogates, belum ada teknologi mobil terbang atau teknologi-teknologi yang biasanya ditampilkan pada film bernuansa futuristik.

Kehidupan manusia dan teknologi lainnnya (selain Surrogates) sama seperti jaman yang kita alami sekarang. Jadi saya tarik lagi kata ‘futuristik’ untuk film ini.

Kembali lagi ke penyelidikan pembunuhan Surrogates yang janggal. Ketika disambangi ke tempat tinggal operator Surrogates yang terbunuh, ternyata operator dari Surrogates wanita adalah seorang laki-laki. Hahaha, teman-teman saya dan juga termasuk saya bener-bener langsung heran dan huek huek huek. Biar penasaran, liat aja yah filmnya biar tahu maksudnya.

Film ini juga menampilkan sisi-sisi moral manusia. Di mana manusia sebagai makhluk sosial (jadi inget jaman sekolah, kalau dengar kata-kata ini) pasti membutuhkan bersosialisasi. Karena meskipun ada Surrogates, tetap saja Surrogates tersebut tidak menampilkan bentuk asli si manusia-nya.

Lha wong, Bruce Willis bisa jadi muda banget padahal kan kita tahu berapa umurnya. Jika diperhatikan operator-operator Surrogates jauh lebih tua, lebih lusuh, lemah, yaah apapun itu yang pasti penampilan fisiknya jauh dibandingkan Surrogates-nya.

Adegan-adegan pengejaran oleh Surrogates-nya Tom Greer (Bruce Willis) ketika mengejar pembunuh/Strickland (Jack Noseworthy) dan adegan Peters/Older Canter (James Cromwell) hampir sama seperti adegan di film Hancock.

Melompat kesana kemari, di atas kontainer ataupun di atas mobil yang sedang berjalan. Visual effect-nya terasa sama seperti di film Hancock. Surrogates di film ini memang diberikan kemampuan super seperti itu. Jadi gak heran ada adegan heboh seperti itu.

Plot cerita Surrogates kurang menarik, karena tidak ada hal yang istimewa dari ceritanya. Seperti film-film masa depan lainnya yang menampilkan teknologi baru, ada yang ingin menghancurkan dan tentu saja biasanya ada detektif yang menyelidiki kasus tersebut.

Ada yang pro dengan teknologi tersebut, juga ada sekelompok orang yang kontra dan tentu saja ada tokoh kontra yang disebut The Prophet. Nah, ada hal yang menarik dan mengejutkan dari The Prophet.

Namun jika kita mengamati plot cerita dari awal dan kita bisa menebak siapa sebenarnya The Prophet sehingga perihal The Prophet ini bakal tidak menarik lagi.

Yang bikin film ini agak tertolong yaitu akting Bruce Willis, baik ketika menjadi Surrogates maupun ketika menjadi dirinya sendiri. Baik dari action-nya ketika menjadi detektif maupun ketika berdialog dengan istrinya/Maggie (Rosamund Pike) yang cukup emosional.

Selain itu saya sempat membayangkan, bagaimana jika hal ini (Surrogates) benar-benar kejadian di masa depan. Brrrrr…gak deh, mending saya jadi diri saya sendiri daripada menggunakan robot. Klo kata The Prophet (Penentang Surrogates) sih Kehidupan Palsu.

Ketika film ini berakhir, saya tertegun dan terucap: “ Udah nih ? Cuma segini ?”. Nahh, silahkan diartikan sendiri yah, meskipun begitu film ini masih layak tonton kok.

Image diambil tanpa izin dari Wikipedia.org