Tanggal 22 dan 23 September 2011 saya ditugaskan ke luar kota bersama manager saya ke Bali. Selain ada tugas sosialisasi ke kantor regional Bali Nusra, kami juga ada undangan meeting konsinyering bersama Departemen Komunikasi dan Informatika. Selain perusahaan tempat saya bekerja, operator telekomunikasi lainnya juga tidak luput diundang.

Akomodasi kami ditangani oleh kantor, dan biasanya diserahkan kepada travel. Kali ini travel yang mengurusi akomodasi kami adalah travel Dwidaya. Dua hari kami dijadwalkan menginap di hotel Oasis yang terletak di Kuta, tapi berhubung manager saya termasuk orang yang detail dan suka cari info, maka browsing lah manager saya untuk cari info rating hotel Oasis di internet. Didapatkan rating hotel Oasis mendapat rating bintang 2,5 dari 5, selain itu banyak komentar negatif mengenai hotel tersebut. Walhasil kami tetap berangkat ke Bali dengan rencana tetap menginap di hotel tersebut, karena keberangkatan kami yang tidak bisa ditunda lagi.

Ketika saya check in di hotel Oasis, perasaan sudah kurang nyaman. Jalan masuk menuju hotel berupa jalan kecil yang berukuran lebar kurang dari 3 meter atau bisa juga disebut gang. Hanya mobil seukuran Avanza saja yang bisa masuk, itupun dengan menutup kaca spion. Pada malam ketika saya check in, di depan pintu masuk hotel banyak orang-orang nongkrong, ya mungkin bisa juga disebut anak kampung lah.

Sesampainya di dalam hotel, saya agak kesulitan mencari resepsionis karena ketika masuk hotel saya harus berjalan lurus sekitar 5 meter dari pintu masuk dan ada dua jalan ke kiri dan ke kanan. Tidak terlihat tanda-tanda meja resepsionis ataupun penunjuk jalan menuju resepsionis. Yah agak clingak clinguk juga sih, walaupun akhirnya sampai juga di meja resepsionis.

Resepsionis seperti biasa menanyakan identitas, pemesanan dan lain-lain. Yaa hampir tidak ada yang berbeda dengan hotel-hotel lain dalam menanyakan hal tersebut. Yang berbeda kali ini saya tidak diminta deposit untuk kamar, karena biasanya di setiap hotel saya diminta deposit sejumlah uang. Meskipun begitu pelayanan maupun tutur kata resepsionis saya anggap kurang ramah dibandingkan hotel-hotel yang pernah saya kunjungi.

Penerangan di hotel ini mulai dari pintu masuk, resepsionis, hingga jalan menuju kamar kurang begitu terang, bahkan bisa dibilang remang-remang. Sesampainya di kamar, lagi-lagi saya dibuat kurang puas dengan keadaan kamar. Kamar beralaskan ubin yang kurang terawat, bantal yang kurang bersih dan sudah kempes. Lampu penerangan di dalam kamar kurang terang. Handuk yang disediakan juga kurang meyakinkan, selain warnanya sudah memudar pun dilihat juga kurang bersih.

Perlengkapan mandi, cukup lengkap mulai dari shampoo, sabun, dan lainnya. Namun ada satu yang kurang, yaitu sikat gigi dan pasta gigi, atau memang sengaja tidak disediakan karena pengunjung hotel oasis jarang yang sikat gigi, hihihi. Availability room service pun hanya mulai dari jam 7 pagi dengan kata lain tidak 24 jam. Bisa repot jika tengah malam membutuhkan sesuatu namun room service tidak available. Wah wah wah hotel ini memang benar-benar membuat kecewa.

Saya sarankan jangan sekali-sekali mencoba menginap di hotel Oasis ini daripada dibuat kecewa dan membuat liburan di Bali jadi kurang menyenangkan. Untung saja di hari kedua saya pindah hotel, selain karena manager saya yang meminta, pun ternyata travel Dwidaya hanya memesankan di hotel tersebut untuk satu hari saja. Hari kedua saya menginap di Quest Hotel, Kuta Central Park, Bali. Bahasannya akan dibuat di posting berikutnya ya…

Tanggal 22 dan 23 September 2011 saya ditugaskan ke luar kota bersama manager saya ke Bali. Selain ada tugas sosialisasi ke kantor regional Bali Nusra, kami juga ada undangan meeting konsinyering bersama Departemen Komunikasi dan Informatika. Selain perusahaan tempat saya bekerja, operator telekomunikasi lainnya juga tidak luput diundang.
Oasis Hotel kaya gini nih

Perhatian: Tulisan ini bukan promosi dari produk apapun, namun lebih kepada pengalaman penulis. Segala data yang ditampilkan merupakan data yang relevan ketika penulis melakukan publish.

Selama ini jika saya ingin membeli barang secara online, maupun offline yang mengharuskan saya transfer nilai pembayaran, pada umumnya penjual barang minimal mempunyai nomor rekening BCA. Hal ini mau tidak mau membuat saya harus menambah koleksi rekening lagi.

jadi…bisa yah akses via BeBe ?

Biology determines much what the way we live
From the moment we were born, we knew how to breath and eat
As we grow older, new instincts kick in

We become territorial
We learn to compete.
We seek shelter.
Most important of all.
We reproduce.

can’t fight biology >>>

Nobody chooses to be a freak.
Most people don’t even realize they’re a freak until it’s way too late to change it.

But no matter how much of a freak you end up being.
Chances are there’s still someone out there for you.
Unless, of course, they’ve already moved on…

Because when it comes to love…
Even freaks can’t wait forever.

Ting ting, email baru telah masuk di inbox Yahoo saya, saya tahu karena Blackberry yang saya punya telah disetting untuk dapat menerima push email dari Yahoo. Setelah saya buka, ternyata ada beberapa rekan yang melakukan tagging terhadap suatu foto yang ada di facebook. Saya sedikit terheran, karena seingat saya, tidak pernah saya foto berbarengan dengan teman saya itu setelah sekian lama. Karena penasaran saya pun langsung membuka link yang terdapat di email notifikasi tersebut. Agak sedikit merasa kurang dihargai (mudah-mudahan gak lebay yah) karena foto yang dimaksud adalah media promosi barang dagangan yang teman saya jual.

Ijin dong klo mao tagging

Lightning doesn’t often strike twice.
It’s once-in-a-lifetime-thing.
Even it feels like the shock is coming over and over again…

Eventually…
The pain will go away, the shock will wear off…
And you start to heal yourself…

To recover from something you never saw coming.
But sometimes the odds are in your favor.
If you’re in just the right place at just the right time…
You can take a hell of a hit…

And still have a shot at surviving.

When we say things like “People don’t change”, It drives scientists crazy…
Because change is literally the only constant in all of science.

Energy…Matter…It always changing…
Morphing…Merging…Growing…Dying.
It’s the way people try not to change that’s unnatural…

The way we cling…>>>

Akhirnya Resident Evil: Afterlife muncul juga di Indonesia 18 September 2010, meskipun agak telat dari jadwal premier di luar negeri sana yang seharusnya pada tanggal 10 September 2010. Baru tayang di Cinema 21 di beberapa theater tertentu, itu pun masih midnight show. Tapi tak apa, saya tak mau ketinggalan melihat aksi Alice vs Umbrella Corp.

aksi Mila Jovovich

Entahlah, padahal sudah cukup lama kejadiannya tapi hingga sekarang saya masih sulit untuk memaafkan apalagi melupakan.

Sempat beberapa waktu mungkin bisa dihitung beberapa bulan atau tahun dapat sejenak melupakan, tapi ada saja yang membuat saya terkoneksi lagi. Dan hal-hal yang membuat terkoneksi lagi tersebut merupakan di luar kendali saya. Saya pun tidak dapat memaksakan agar hal tersebut dapat berada di dalam lingkaran kendali saya.
not forgiven

Ini pertama kali saya menghadiri panggilan pengadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, bukan untuk mengurus sengketa apapun apalagi urusan harta gono gini. Tapi kali ini saya datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghadiri siding pelanggaran lalu lintas dengan kata lain saya ingin mengambil SIM C saya kemudian membayar denda yang sesuai.
siap-siap disidang, hhrrr…

Perhatian: Tulisan ini berdasarkan pengalaman semata dan tidak bermaksud mendiskreditkan pihak manapun

3 Mei 2010 sengaja saya sempatkan untuk cuti dari kesibukan kantor untuk pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) C. Sebetulnya saya sudah mempunyai SIM C namun diterbitkan di Yogyakarta tahun 2005 ketika saya masih kuliah itu pun ‘nembak’. Kali ini sengaja saya ingin mencoba pengurusan SIM C dengan jalan yang ‘lurus’ tanpa embel-embel apapun.
bikin SIM C baru nih

We all remember the bedtime stories of our childhoods
The shoe fits Cinderella, the frog turn into a prince, sleeping beauty is awakened with a kiss.
Once upon a time..and they live happily ever after.

Fairy tales, the stuff of dreams.
The problem is fairy tales don’t come true.
It’s the other stories, the ones that begin with dark and stormy nights and end in the unspeakable.
It’s the nightmares that always seem to become reality.
The person who invented the phrase “happily ever after” should have his ass kicked so hard.

Once upon a time….happily ever after.
The stories we tell are the stuff of dreams.
Fairy tales don’t come true.
Reality is much stormier.
Much murkier.
Much scarier.
Reality is much more interesting than living happily ever after.

We like to think that we are rational beings.
Humane. Conscientious. Civilized. Thoughtful.
But when things fall apart, even just a little, it becomes clear.
We’re no better than animals.

We have opposable thumbs.
We think. We walk erect. We speak. We dream.
But deep down we’re all still rooting around in the primordial ooze.
Biting, clawing, scrathing out an existence in the cold dark world like the rest of the tree toads and sloths.

There’s a little animal in all of us.
And maybe that’s something to celebrate.
Our animal instinct is what make us seek comfort, warm, a pack to run with.

We may feel caged.
We may feel trapped.
But still, as humans, we can find ways to feel free.
We are each other’s keeper.
We are the guardians of our own humanity.
And even though there’s a beast inside all of us…

What sets us apart from the animals is that we can think, feel, dream and love.
We evolve.

Data Properti

Luas Tanah : 78 m²

Panjang : 13 m

Lebar : 6 m

Sertifikat : SHM – Sertifikat Hak Milik

Menghadap : Barat

IMB : Ada

Ada bangunan rumah dengan luas 21m²

Lokasi Perumahan Inkopad hanya 15 menit dari terminal Parung.

bisa dilihat di Google Maps, klik link ini http://ow.ly/1bR27

Fasilitas: TK, SD, SMP, lapangan sepakbola.

Pilihan angkutan umum:

1. Terminal Parung – Perumahan Inkopad

2. Stasiun Bojong Gede – Perumahan Inkopad

Harga Jual di bawah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Tanah + Rumah

Harga: Rp. 30 jt (nego)

Contact Person:

Sigit Priyono

Phone : 0811-1981877

email : sigitpriyo@live.com

There comes a point in your life when you’re officially an adult.
Suddenly you old enough to vote, drink and engage in other adult activities.
Suddenly people expect you to be responsible…
Serious a grown up.

We get taller.
We get older.
But do we ever really grow up ?

In some ways we grow up.
We have families.
We get married…Divorced.

But, for the most part, we still have the same problems that we did when we were 15.
No matter how much we grow taller…grow older…
We still forever stumbling.
Forever wondering.
Forever…young.

The thing about addiction is it never ends well.
Because eventually whatever it is that was getting us high…
Stops feeling good and starts to hurt.

Still, they say you don’t kick the habit till you hit rock bottom.
But how do you know when you’re there ?
Because no matter how badly a thing is hurting us…
Sometimes letting it go hurts even worse.

Too often, the thing you want most is the one thing you can’t have.
Desire leaves us heartbroken…It wears us out.
Desire can wreck your life.
But as tough as wanting something can be.
The people who suffer the most are those who don’t know what they want.

In life, only one thing is certain…
Apart from death and taxes…
No matter how hard you try, no matter how good your intentions, you are going to make mistakes.

You’re going to hurt people.
You’re going to get hurt.

And if you ever want to recover…
There’s really only one thing you can say.
“I forgive you”

Forgive and forget.
That’s what they say.
It’s good advice, but it’s not good practical.

When someone hurts us…
We want to hurt them back.
When someone wrongs us, we want to be right.

Without forgiveness, old scores are never settled…
Old wounds never heal.
And the most we can hope for is that one day we’ll be lucky enough to forget.

Deep down, everyone wants to believe they can be hard-core.
But being hard-core isn’t just about being tough.

It’s about acceptance.
Sometimes you have to give yourself permission not to be hard-core for once.

You don’t to be tough every minute of every day.
It’s okay to let down your guard.

In fact, there are moments when it’s the best thing you could possibly do…
As long as you choose your moments wisely.

The truth is painfull.
Deep down, nobody wants to hear it, especially when it hits close to home.

Sometimes we tell the truth…
Because the truth is all we have to give.

Sometimes we tell truth because…
We need to say it loud to really hear it for ourselves.

And sometimes we tell the truth,
Because we just can’t help ourselves.

And sometimes…
We tell them…
Because we owe them.
At least, that much.

Change.
We don’t like it, we fear it.
But we can’t stop it from coming.
We either adapt to change.
Or we get left behind.

It hurts to go.
Anybody who tells you it doesn’t, is lying.
But here’s the truth.
Sometimes the more things change, the more they stay the same.

And sometimes, oh sometimes, change is good.
Sometimes change is.
Everything.

At some point, maybe we accept that the dream has become nightmare.
We tell ourselves the reality is better.
We convince ourselves it’s better that we never dream at all.

But the strongest of us, the most determined of us, we hold on to the dream.
Or we find ourselves faced with a fresh dream we never considered.
We awake to find ourselves…against all odds…feeling hopeful.

And if we’re lucky, we realize…in the face of everything, in the face of life…
The true dream…is being able to dream at all.

The dream is this
That we’ll finally be happy when we reach our goals.

Find the woman/guy , finish the job…That’s the dream
Then we get there.

And if we’re human, we immediately start dreaming something else

Because if this is the dream…
Then we’d like to wake up…

Now, please.